SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Krisis air bersih yang melanda Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), semakin dirasakan masyarakat. Tak hanya air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang dikeluhkan terasa payau, sejumlah air minum isi ulang juga mulai kehilangan rasa segarnya dan dinilai tidak nyaman untuk dikonsumsi.
Kondisi ini membuat warga harus lebih selektif memilih depot air minum isi ulang. Sebagian masyarakat bahkan rela mengantre hingga berjam-jam demi mendapatkan air yang tidak terasa payau, terutama air yang bersumber dari kawasan perbukitan.
Pantauan Radar Sampit, Selasa (13/10/2026) pagi, antrean warga terlihat memadati salah satu depot pengisian air minum di Jalan Ir. H. Juanda, kawasan Ketapang. Deretan galon memenuhi area depot hingga ke pinggir jalan.
Pengelola menerapkan sistem nomor antrean untuk menjaga ketertiban di tengah meningkatnya jumlah pelanggan.
Sejumlah warga sudah datang sejak pagi. Mereka rela menunggu giliran di tengah cuaca Sampit yang diselimuti kabut asap tebal.
Salah seorang warga, Wati, mengaku harus menunggu cukup lama sebelum mendapatkan air yang dibutuhkannya.
“Iya, antre di sini ulun diberi nomor antrean. Selain itu, kita harus bersabar menunggu giliran. Ini saja ulun sejak pukul 06.30 sampai 08.00 WIB baru dapat airnya,” ujarnya sambil tersenyum.
Keluhan serupa disampaikan Rahman. Ia mengaku selama ini menjadi pelanggan air minum isi ulang yang biasa diantar ke rumah menggunakan mobil pikap dengan harga Rp5.000 per galon.
Namun, dalam beberapa hari terakhir, ia merasakan perubahan pada air yang dibelinya. “Kemarin masih enak airnya. Tiba-tiba beberapa hari ini beli lagi dua galon, kok airnya tidak enak untuk diminum,” ungkapnya.
Rahman mengaku sempat merasakan sakit perut dan mulas setelah mencoba meminum air tersebut. Meski demikian, belum ada pemeriksaan yang memastikan apakah keluhan itu berkaitan dengan air yang dikonsumsinya.
Dua galon air yang dibelinya kemudian tidak lagi diminum langsung dan hanya digunakan untuk memasak. Untuk sementara, ia memilih berhenti membeli dari depot langganannya dan mencari tempat pengisian lain yang airnya lebih sesuai untuk dikonsumsi.
“Setelah kejadian itu, sementara tidak lagi membeli di tempat langganan. Saya mencoba mencari air galon isi ulang yang enak untuk diminum,” tuturnya.
Sementara itu, Abdul mengaku harus mencari informasi dari warga lain untuk menemukan depot yang menyediakan air dengan rasa tidak payau.
Menurutnya, harga menjadi pertimbangan kedua selama air yang diperoleh tidak lagi terasa payau.
Ia menyebut harga air isi ulang yang sebelumnya sekitar Rp7.000 per galon kini mencapai Rp9.000 hingga Rp12.000 di sejumlah tempat yang menjadi pilihannya.
“Karena air galon payau, saya mencari informasi dan bertanya-tanya di mana tempat pengisian air galon yang enak. Akhirnya ketemu, walaupun harganya cukup mahal dari biasanya. Yang penting tidak payau lagi,” ujarnya.
Air payau merupakan air yang mengandung campuran air tawar dan air asin, dengan kadar garam lebih tinggi daripada air tawar, tetapi umumnya lebih rendah daripada air laut.
Perubahan rasa air menjadi payau dapat menjadi tanda adanya perubahan kandungan mineral atau zat terlarut sehingga perlu diperiksa lebih lanjut.
Dalam kondisi kemarau dan krisis air bersih, sumber air yang digunakan depot isi ulang menjadi perhatian masyarakat. Sebab, tidak semua pengusaha menggunakan sumber mata air yang sama.
Ada yang memanfaatkan air sumur bor, sumber air dari kawasan perbukitan, bahkan air yang berasal dari jaringan PDAM.
Di tengah kondisi tersebut, warga mulai saling berbagi informasi mengenai depot air isi ulang yang dinilai menyediakan air dengan rasa lebih segar dan tidak payau.
Untuk kawasan Ketapang, sejumlah lokasi yang direkomendasikan warga antara lain di Jalan SPG, Jalan Iskandar 27, Jalan Iskandar 29, Jalan Dewi Sartika, dan Jalan Pelita Barat.
Menurut informasi warga, depot-depot tersebut menggunakan sumber air dari kawasan perbukitan.
Sementara itu, bagi warga kawasan Baamang, beberapa lokasi yang disebut menjadi alternatif pengisian air galon antara lain di kawasan Mayora Tidar 4, Tidar Baru Jalur 5, Jalan Rinjani Nomor 5, Jalan Cristopel Mihing di samping Ayam Risty, serta Jalan Ki Hajar Dewantara di depan UMSA.
Lokasi lainnya berada di dalam Gang Rindang Banua, Baamang Tengah, Jalan Caman di depan musala dengan sumber air dari kawasan Bukit Rubung Buyung, serta MB Water Sampit di Jalan Kanan Sandan, depan perumahan di sebelah Gang Haji Taufik.
Informasi tersebut merupakan rekomendasi berdasarkan pengalaman warga dan belum menjadi jaminan bahwa air di seluruh lokasi tersebut memenuhi standar kesehatan.
Di tengah sulitnya memperoleh air bersih, masyarakat berharap ada perhatian serius terhadap kualitas air yang beredar, baik dari jaringan PDAM maupun depot isi ulang.
Pengawasan dan pemeriksaan berkala dinilai penting agar warga tidak hanya mendapatkan air yang cukup, tetapi juga air yang aman untuk dikonsumsi.
Karena itu, masyarakat diimbau berhati-hati dan tidak menganggap air yang sudah melalui proses isi ulang otomatis aman dikonsumsi. Pemeriksaan kualitas air baku maupun air hasil pengolahan diperlukan untuk memastikan kelayakannya.(ady)
Editor : Slamet Harmoko