SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Kabut asap masih menyelimuti Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Senin (12/10/2026). Seiring waktu berjalan, jarak pandang semakin terbatas. Kualitas udara juga berada pada kategori berbahaya dengan nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) mencapai 318.
“Mata makin perih, kabut asap begitu pekatnya. Tampaknya merata tebalnya di Sampit,” ungkap Didi, salah seorang warga Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Senin (12/10).
Data BMKG Kotim mencatat jarak pandang di Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit pada pukul 08.00 WIB mencapai 200 meter. Satu jam kemudian, tepatnya pukul 09.00 WIB, jarak pandang turun menjadi 100 meter.
Pada pukul 08.00 WIB, kondisi cuaca tercatat berupa kabut asap dengan suhu 26,3 derajat Celsius, kelembaban 89 persen, dan angin tenang atau calm. Pada pukul 09.00 WIB, suhu meningkat menjadi 27,9 derajat Celsius dengan kelembaban 80 persen. Angin bertiup dari timur laut dengan kecepatan 6 kilometer per jam.
Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan kualitas udara yang masuk kategori berbahaya. Berdasarkan data aplikasi ISPUnet, ISPU Kotim pada pukul 08.00 WIB mencapai 318 dengan parameter pencemar kritis PM2.5.
Partikel PM2.5 merupakan partikel halus yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Nilai ISPU 318 berada dalam kategori berbahaya, yang berarti kualitas udara berpotensi menimbulkan dampak kesehatan serius sehingga memerlukan penanganan cepat.
Selain PM2.5, parameter PM10 tercatat sebesar 236 atau masuk kategori sangat tidak sehat. Sementara itu, parameter sulfur dioksida (SO2) tercatat 17, karbon monoksida (CO) 5, ozon (O3) 35, nitrogen dioksida (NO2) 5, serta hidrokarbon (HC) 0. Seluruh parameter tersebut tercatat dalam kategori baik berdasarkan data yang diberikan.
Data ISPUnet juga mencatat kelembaban 96,48 persen, tekanan udara 1.012 mBar, dan suhu 26 derajat Celsius pada waktu pengukuran tersebut.
Perbedaan angka suhu dan kelembaban antara ISPUnet dan pengamatan BMKG dapat terjadi karena sumber atau metode pengukuran yang berbeda. Karena itu, masing-masing data perlu dibaca sesuai sumber dan waktu pencatatannya.
Jarak pandang yang terus menurun dan kualitas udara berbahaya menjadi perhatian bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan. Masyarakat perlu mengurangi paparan asap, terutama jika mengalami mata perih, batuk, atau sesak napas, serta mengikuti informasi kualitas udara dan imbauan kesehatan dari instansi terkait. (oes)
Editor : Slamet Harmoko