SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Minggu (11/10/2026).
Pemandangan matahari terbenam di ujung Bandara Haji Asan Sampit yang biasanya menjadi daya tarik warga pun ikut menghilang di balik pekatnya asap.
Meski begitu, kondisi tersebut tidak sepenuhnya membuat aktivitas warga di luar rumah berhenti. Menjelang petang, kawasan ujung Bandara Haji Asan Sampit di Kelurahan Baamang Hulu itu tetap ramai didatangi warga.
Pantauan sekitar pukul 16.30 WIB, anak-anak, remaja, hingga warga sekitar terlihat menghabiskan waktu di kawasan tersebut. Ada yang bermain bola, duduk santai bersama keluarga dan teman, hingga membeli aneka jajanan yang dijajakan pedagang kaki lima.
Kawasan ujung bandara memang menjadi salah satu lokasi favorit warga untuk menikmati suasana sore. Pedagang menjajakan berbagai makanan dan minuman, mulai dari pentol, gorengan, telur gulung, hingga minuman dingin.
Namun, suasana sore kali ini terasa berbeda. Kabut asap membuat pandangan ke arah barat menjadi terbatas. Matahari yang biasanya menjadi pemandangan utama menjelang petang nyaris tak terlihat.
Tetap Keluar Rumah Meski Khawatir Asap
Bagi sebagian warga, datang ke ujung bandara menjadi cara untuk mengusir kejenuhan setelah beberapa hari menghadapi kabut asap.
Salah seorang warga, Yuli, mengatakan dirinya merindukan pemandangan sunset yang biasanya dapat dinikmati dari kawasan tersebut.
“Kapannya lah sunset di sini sebagus dulu. Tiap sore bisa melihat matahari terbenam di ufuk barat, sekarang terhalang kabut asap,” ujarnya.
Yuli mengaku terkadang memilih berjalan-jalan sore karena merasa bosan jika terus berada di rumah. Namun, kondisi udara yang dipenuhi asap juga membuatnya khawatir.
“Kalau di rumah terus bosan. Terkadang juga khawatir keluar rumah saat situasi kabut asap seperti ini. Akhirnya memutuskan jalan-jalan sore ke ujung bandara, dekat Kantor Kelurahan Baamang Hulu,” tuturnya.
Menurutnya, kawasan tersebut tetap menarik karena banyak pedagang yang berjualan. Warga biasanya membeli jajanan kemudian duduk santai sambil menikmati suasana menjelang malam.
Ironisnya, sejumlah pengunjung yang beraktivitas di lokasi tersebut terlihat tidak menggunakan masker, meski kabut asap masih menyelimuti kawasan Sampit.
Udara Sampit Masuk Kategori Berbahaya
Di balik ramainya aktivitas warga, kondisi udara Sampit masih menjadi perhatian. Berdasarkan pemantauan kualitas udara, indeks kualitas udara (AQI) di wilayah Sampit mencapai 316 pada Minggu, yang masuk kategori berbahaya.
Kondisi tersebut terjadi setelah sebelumnya nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kotim sempat menembus angka ekstrem, di atas 1.405 hingga 1.422, akibat dampak kabut asap karhutla.
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur juga telah memperpanjang status tanggap darurat terkait bencana karhutla.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kabut asap sedang pekat. Warga yang terpaksa keluar rumah disarankan menggunakan masker yang sesuai dan memperhatikan perkembangan kualitas udara.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan juga perlu mendapat perhatian lebih karena berisiko lebih besar terdampak pencemaran udara.
Kabut asap akhirnya bukan hanya mengubah pemandangan sore di ujung Bandara Haji Asan. Di balik hilangnya sunset yang biasanya dinantikan, ada persoalan kualitas udara yang membuat aktivitas warga di ruang terbuka perlu dipertimbangkan kembali. (ady)
Editor : Slamet Harmoko