Kemarau Bikin Air Kolam Menyusut, Pembudidaya di Kotim Kurangi Pakan Ikan

Yuni Pratiwi Iskandar • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 20:56 WIB
PERIKANAN: Jabatan Fungsional Pengelola Kesehatan Ikan Ahli Muda Fahrul Jainal Ilmi (kiri) melakukan pemantauan aktivitas budidaya  di Pokdakan Alam Salju Sejahtera, di tengah musim kemarau, baru-baru tadi. DISKAN KOTIM/RADAR SAMPIT
PERIKANAN: Jabatan Fungsional Pengelola Kesehatan Ikan Ahli Muda Fahrul Jainal Ilmi (kiri) melakukan pemantauan aktivitas budidaya di Pokdakan Alam Salju Sejahtera, di tengah musim kemarau, baru-baru tadi. DISKAN KOTIM/RADAR SAMPIT

 

SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Musim kemarau mulai berdampak terhadap usaha perikanan budidaya di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Debit air yang menurun membuat ketersediaan air kolam berkurang sehingga pembudidaya harus menyesuaikan pola pemeliharaan ikan.

Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Alam Salju Sejahtera Muhammad Aris mengatakan, penurunan debit air cukup terasa pada kolam tampung. Biasanya ketinggian air mencapai lebih dari dua meter, kini hanya sekitar 60–70 sentimeter.

“Debit air sangat turun, biasanya ketinggian air di kolam tampung mencapai dua meter lebih, sekarang hanya 60–70 cm,” ujar Aris.

Baca Juga: Palangka Raya Pertahankan Gelar Juara Umum GTK Kalteng 2026

Kondisi tersebut membuat pembudidaya mengurangi pemberian pakan. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kualitas air dan mencegah penumpukan sisa pakan yang dapat meningkatkan kadar amonia.

“Pemberian pakan harus dikurangi dan disesuaikan dengan kondisi ikan serta volume air yang tersedia. Hal ini penting untuk mencegah amonia berlebih yang dapat mengganggu kesehatan dan kelangsungan hidup ikan,” jelasnya.

Aris berharap pemerintah dapat membantu menyediakan sumber air alternatif, salah satunya melalui sumur bor. Dengan tambahan sumber air, pengisian kolam tetap bisa dilakukan saat debit air menurun.

Baca Juga: Rekor 15 Kali Berturut-turut Juara! Mentawa Baru Ketapang Tak Tergoyahkan di MTQ Kotim

“Kami berharap ada bantuan pemerintah berupa sumur bor, sehingga ketika debit air menurun, kami lebih mudah menambah air ke kolam dan kegiatan budidaya tetap dapat berjalan,” harapnya.

Kepala Dinas Perikanan Kotim Marjuki melalui Jabatan Fungsional Pengelola Kesehatan Ikan Ahli Muda Fahrul Jainal Ilmi mengatakan, kondisi kemarau harus disikapi dengan pengelolaan budidaya yang lebih terukur. Selain pakan, kepadatan ikan juga perlu disesuaikan dengan ketersediaan air.

“Pada kondisi air yang terbatas, yang terpenting adalah menjaga kualitas air dengan menyesuaikan pemberian pakan dan kepadatan ikan. Dengan pengelolaan yang baik, budidaya tetap dapat berjalan,” katanya.

Baca Juga: Kekeringan Belum Berakhir, Warga Kotim Diminta Tetap Waspada Karhutla

Menurut Fahrul, sisa pakan yang tidak termakan dapat meningkatkan kadar amonia di dasar kolam. Karena itu, pengurangan pakan menjadi salah satu langkah yang perlu dilakukan saat debit air menurun.

“Budidaya tetap bisa dilakukan, tetapi jumlah bibit yang ditebar dikurangi dan disesuaikan dengan debit air yang ada di kolam,” ujarnya.

Terkait usulan sumur bor, Fahrul mengatakan pihaknya telah menerima aspirasi tersebut. Namun, realisasinya akan menyesuaikan dengan kemampuan anggaran yang tersedia.

Baca Juga: Situasi Menegangkan ketika Pemotongan Cincin yang Melekat di Jari Manis Seorang Balita

“Usulan pembudidaya terkait sumur bor tersebut kami terima. Namun, untuk pengadaannya akan kami sesuaikan dengan anggaran yang tersedia,” pungkasnya. (yn/fm)

 

Editor : Farid Mahliyannor
debit air susut Pembudidaya perikanan kemarau kotim