KABUT ASAP KARHUTLA! Indeks Udara Kotim Tembus 1.270, Warga Mulai Keluhkan Sakit Kepala

Yuni Pratiwi Iskandar • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 20:31 WIB

 

ILUSTRASI: Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan saat menyelimuti Jalan HM Arsyad Sampit, beberapa hari lalu. FOTO: DOK/RADAR SAMPIT
ILUSTRASI: Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan saat menyelimuti Jalan HM Arsyad Sampit, beberapa hari lalu. FOTO: DOK/RADAR SAMPIT

 

SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Kabut asap kembali terasa di sejumlah wilayah Kotawaringin Timur (Kotim), Selasa (6/10/2026). Kondisi ini mulai dikeluhkan warga setelah sehari sebelumnya kualitas udara dinilai lebih nyaman.

Salah seorang warga, Dewi, mengatakan udara pada Senin (5/10/2026) sempat membaik. Asap tidak terlalu terasa sehingga aktivitas di luar rumah masih cukup nyaman. Namun, kondisi kembali berubah pada Selasa.

“Senin kemarin udaranya sudah mulai enak. Hari ini mulai berasap lagi,” kata Dewi, Selasa (6/10/2026).

Baca Juga: Karhutla Masih Mengancam, Warga Kotim Diminta Tak Bakar Lahan

Menurutnya, asap yang mulai menebal tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga membuat dirinya mengalami sakit kepala.

“Kalau asap tebal ini saya merasa sakit kepala. Mungkin karena menghirup asap,” ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian mengingat paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama ketika kualitas udara memburuk.

Baca Juga: Saluran Sempit dan Dangkal, Drainase Jalan Pelita Sampit Dinormalisasi

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), kualitas udara di Kotim pada Selasa (6/10/2026) pukul 12.00 WIB tercatat pada indeks 1.270 dengan parameter kritis PM10.

Angka tersebut masuk kategori berbahaya, yang menunjukkan kondisi dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat dan membutuhkan penanganan cepat.

Kembalinya kabut asap pada awal Oktober menunjukkan ancaman karhutla masih membayangi masyarakat Kotim. Warga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan saat asap menebal dan menggunakan masker sebagai perlindungan. (yn/fm)

 

Editor : Farid Mahliyannor
musim kering udara berbahaya kemarau kabut asap karhutla