Atasi Banjir, Drainase Tjilik Riwut dan Panjaitan Dikebut

Yuni Pratiwi Iskandar • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 10:34 WIB
DRAINASE: Bupati Kotim Halikinnor beserta jajaran meninjau progres pengerjaan drainase di Jalan Tjilik Riwut, Kamis (1/10).
DRAINASE: Bupati Kotim Halikinnor beserta jajaran meninjau progres pengerjaan drainase di Jalan Tjilik Riwut, Kamis (1/10).

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Pembangunan drainase permanen di Jalan Tjilik Riwut dan Jalan D.I. Panjaitan terus dikebut Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Hingga Kamis (1/10), progres pembangunan di Jalan Tjilik Riwut telah mencapai sekitar 50 persen, sedangkan di Jalan D.I. Panjaitan sekitar 35 persen.

Bupati Kotim Halikinnor meninjau langsung progres pekerjaan di kedua lokasi tersebut bersama Pj Sekda Kotim Diana Setiawan, Kepala Dinas SDABMBKPRKP Mentana Dhinar Tistama beserta jajaran, serta Kepala Diskominfo Kotim Cok Orda Putra Legawa beserta jajaran.

Peninjauan dilakukan untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai rencana sekaligus melihat penanganan genangan yang selama ini menjadi keluhan warga ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.

“Karena kan selama ini yang sering dikeluhkan warga kita, apabila saat hujan, musim hujan apalagi hujan itu intensitasnya cukup tinggi, maka terjadi genangan air, ya bahkan banjir,” kata Halikinnor.

Dia menjelaskan, pembangunan drainase di kedua ruas jalan tersebut menggunakan sistem berbeda. Drainase di Jalan D.I. Panjaitan dibangun dengan sistem cor, sedangkan di Jalan Tjilik Riwut menggunakan precast.

Menurutnya, penggunaan precast di Jalan Tjilik Riwut menyesuaikan kondisi jalan yang memiliki intensitas kendaraan cukup tinggi. Meski biaya pengerjaannya lebih mahal, konstruksi tersebut dinilai lebih kuat.

“Bedanya lebih mahal yang sana (Jalan Tjilik Riwut), precast itu, tapi itu lebih kuat. Nah, sehingga ini juga menyesuaikan, ini (drainase di Jalan Panjaitan) lebih lebar, karena ini nanti menampung air dari Jalan Pelita, air dari Jalan M.T. Haryono, nah itu semua di pembuangannya ke sini,” ujarnya.

Drainase Dibangun Bertahap

Halikinnor mengatakan pembangunan drainase permanen di sejumlah kawasan akan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan keuangan daerah.

Bahkan, terdapat rencana membuka salah satu ruas jalan untuk dijadikan saluran pengeringan. Namun, bagian atas saluran nantinya tetap ditutup sehingga fungsi jalan tetap dapat digunakan untuk aktivitas masyarakat.

“Bahkan tadi Dinas PU juga merencanakan nanti mungkin ada salah satu jalan yang nanti kita buka, kita buat jadi saluran, jadi pengeringan. Tapi atasnya tetap kita tutup, sehingga tetap aktivitas di atasnya sebagai jalan tidak akan hilang fungsinya,” terangnya.

Dia memastikan pekerjaan yang saat ini berlangsung ditargetkan selesai akhir tahun sesuai kontrak yang telah ditetapkan.

“Insyaallah selesai, karena kontraknya selesai, akhir tahun. Jadi akhir tahun ini selesai,” tambahnya.

Halikinnor juga mengapresiasi warga yang menerima pekerjaan tersebut meski aktivitas lalu lintas di sekitar lokasi sedikit terganggu selama proses pembangunan.

“Karena sebelum pekerjaan sudah dilakukan sosialisasi, dan warga pun menerima. Tadi saya sudah tanyakan langsung kepada warga, terutama mereka yang berjualan. Terima kasih pada semua warga. Saya juga minta maaf, harus dimaklumi mungkin jalan agak terganggu lalu lintas selama pekerjaan, tapi ini demi kenyamanan kita semua,” ungkapnya.

Pelita Masih Jadi Titik Rawan Banjir

Kepala Dinas SDABMBKPRKP Kotim Mentana Dhinar Tistama mengatakan pihaknya menargetkan seluruh pekerjaan selesai pada akhir tahun sesuai kontrak. Pembangunan tersebut selanjutnya akan dilanjutkan secara bertahap, termasuk ke arah Jalan Pelita.

“Untuk yang Jalan Tjilik Riwut kurang lebih sudah 50 persen. Kemudian untuk yang Jalan D.I. Panjaitan kurang lebih 35 persen,” jelas Mentana.

Mentana mengatakan kawasan Pelita dan sekitar Jalan Suprapto selama ini termasuk lokasi yang kerap mengalami banjir saat musim hujan.

Sambil menunggu pembangunan drainase di kawasan tersebut, pihaknya mengoptimalkan pemeliharaan dan pengerukan saluran. Di lapangan, terlihat karung-karung berada di pinggir jalan dari arah Pelita hingga Panjaitan yang digunakan dalam kegiatan pembersihan drainase.

“Harapannya nanti, meskipun di Pelita belum terbangun drainasenya, tetapi air dari Pelita nanti, dari Suprapto Selatan, itu bisa tertarik ke saluran kita yang baru tadi, yang di Panjaitan. Dari Panjaitan nanti kan langsung mengarah ke sungai yang di jembatan itu, Sei Mentawa,” katanya.

Menurut Mentana, kondisi drainase di kawasan Pelita saat ini masih menjadi persoalan karena salurannya sempit, mengalami pendangkalan, dan sebagian besar tertutup.

Pembersihan dilakukan sebagai langkah sementara sebelum pembangunan lanjutan di kawasan tersebut. Pembangunan drainase di Pelita diharapkan dapat direalisasikan tahun depan. (yn)

Editor : Slamet Harmoko
halikinnor banjir drainase kotim kalteng