SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Kabut asap di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sulit hilang karena kondisi atmosfer saat ini cenderung membuat asap terperangkap di lapisan bawah.
Pergerakan udara dari atas ke bawah yang lebih dominan serta angin yang relatif lemah membuat asap tidak cepat menyebar.
Kepala BMKG H. Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Mulyono Leo Nardo, mengatakan kondisi tersebut berkaitan dengan dinamika atmosfer dan Siklus Walker yang memengaruhi pergerakan udara serta pembentukan awan di wilayah Indonesia.
"Ketika terjadi updraft, biasanya dalam kondisi cuaca yang labil, kondensasi naik ke atas. Namun, kondisi sekarang lebih cenderung terjadi gerakan atmosfer ke bawah. Jadinya kita seperti terkurung oleh kabut asap," kata Mulyono, Kamis (1/10).
Menurut dia, gerakan udara dari atas ke bawah turut menekan pembentukan awan. Kondisi tersebut diperparah minimnya uap air dan rendahnya labilitas atmosfer sehingga proses pengangkatan kondensasi tidak berlangsung optimal.
"Kalau terjadi kondensasi, uap air naik, kemudian terbentuk awan dan turun hujan. Sekarang kondensasi tidak bisa terjadi secara optimal karena uap air tidak ada dan labilitas atmosfer juga tidak ada," jelasnya.
Mulyono menjelaskan, kondisi atmosfer tersebut membuat asap yang berada di dekat permukaan sulit terangkat ke lapisan atas. Akibatnya, konsentrasi asap dapat meningkat dan jarak pandang menurun secara signifikan.
Selain dinamika atmosfer, kecepatan angin juga menjadi faktor penting. Angin yang relatif lemah menyebabkan asap tidak cepat terbawa menjauh dari wilayah sumbernya.
"Apalagi sekarang anginnya juga tidak terlalu kencang, jadi asap-asap itu tidak bisa dibawa ke mana-mana. Akhirnya ngumpul dan terkurung di situ. Kalau ada angin kencang, biasanya asap bisa terbawa angin," ujarnya.
Kondisi tersebut juga menyebabkan perubahan jarak pandang sulit diprediksi secara pasti. Menurut Mulyono, asap yang terpantau di Kotim tidak selalu berasal dari sumber kebakaran di wilayah setempat sehingga pergerakannya sulit dibuat dalam pola yang pasti.
"Kami susah untuk memprediksikan seberapa cepat jarak pandang berubah. Asap ini bukan hanya berasal dari daerah lokal, tetapi juga bisa merupakan bawaan dari luar," terangnya.
Berdasarkan pengamatan BMKG Kotim, kabut asap cenderung lebih pekat pada dini hari hingga pagi. Kondisi biasanya mulai membaik sekitar pukul 08.00 hingga tengah hari, kemudian berpotensi kembali pekat pada siang hingga sore.
"Kalau dilihat dari historis kami, kecenderungannya pekat pada pagi atau subuh. Sekitar pukul 08.00 mulai membaik sampai sekitar pukul 12.00 siang. Setelah itu mulai pekat lagi sampai sore," ungkap Mulyono.
Namun, pola tersebut tidak selalu terjadi. Dalam kondisi tertentu, kabut asap dapat bertahan dengan tingkat kepekatan yang relatif sama sejak pagi hingga sore.
Kondisi seperti itu dinilai perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan jarak pandang tetap rendah dalam waktu lebih lama.
Untuk aktivitas perjalanan, BMKG mengimbau masyarakat memperhatikan informasi jarak pandang. Khusus perjalanan darat, masyarakat diminta berhati-hati dan menyesuaikan kecepatan ketika jarak pandang terbatas.
Sementara untuk penerbangan, jarak pandang menjadi salah satu faktor yang menentukan operasional pesawat. Di Bandara H. Asan Sampit, batas jarak pandang operasional bergantung pada metode pengamatan, yakni sekitar dua kilometer berdasarkan instrumen dan sekitar 1,8 kilometer berdasarkan pengamatan manual.
BMKG Kotim terus memantau kondisi cuaca dan jarak pandang serta menginformasikan perubahan kondisi atmosfer kepada masyarakat sebagai bahan kewaspadaan, terutama ketika kabut asap kembali menebal. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko