SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Tingkat salinitas air di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), telah mencapai sekitar 700.
Kondisi tersebut membuat air produksi Perumdam Tirta Mentaya (PDAM) Sampit di wilayah terdampak tidak disarankan untuk dikonsumsi.
Direktur Perumdam Tirta Mentaya, Ismanadi, mengatakan tingginya salinitas dipicu intrusi air laut akibat kemarau berkepanjangan. Kondisi itu telah berlangsung lebih dari sepekan.
"Kalau di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang sudah 700-an. Itu sudah tidak bisa dikonsumsi," kata Ismanadi, Rabu (30/9).
Menurut dia, minimnya hujan menyebabkan ketersediaan air tawar berkurang sehingga pengaruh air laut semakin kuat. Sumber air baku di wilayah Ketapang juga mengalami siklus pasang surut yang turut memengaruhi tingkat salinitas.
Perumdam tidak menyarankan air produksi di wilayah yang terdampak salinitas tinggi untuk dikonsumsi. Wilayah tersebut meliputi Pulau Lepeh, Pelangsian hingga Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
"Untuk wilayah produksi mulai dari Pulau Lepeh, Pelangsian sampai Ketapang, itu tidak kami sarankan untuk dikonsumsi. Kecuali wilayah Baamang karena mengambil dari Tanah Mas," ujarnya.
Imbauan tersebut akan disampaikan berdasarkan hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda). Dinas Kesehatan nantinya menyampaikan informasi kepada masyarakat mengenai air yang tidak dianjurkan untuk dikonsumsi.
Meski demikian, Perumdam masih mempertahankan produksi dan distribusi air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Air dengan salinitas tinggi masih dapat digunakan untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK), tetapi tidak untuk konsumsi.
"Kita berpikir kalau kita stop produksi, kita makin bermasalah. Ada kemungkinan bisa sampai chaos karena masyarakat butuh air juga. Jadi, sementara tetap kita jalankan. Kami hanya menyampaikan agar tidak mengonsumsi," jelasnya.
Untuk kebutuhan minum, masyarakat di wilayah terdampak disarankan menggunakan air minum dalam kemasan atau air galon isi ulang yang memenuhi persyaratan kualitas.
Ismanadi juga mengingatkan penggunaan air dengan kadar garam tinggi dalam waktu lama dapat berdampak terhadap jaringan perpipaan Perumdam yang sebagian besar menggunakan material besi.
Sementara itu, sumber air baku Perumdam di Tanah Mas yang digunakan untuk wilayah Baamang masih relatif terkendali. Namun, kondisi tersebut berpotensi berubah apabila kemarau terus berlangsung tanpa hujan.
"Kita berharap mudah-mudahan dalam minggu-minggu ini ada hujan. Kalau satu atau dua minggu tidak hujan, ada kemungkinan air asin sampai ke Tanah Mas," pungkas Ismanadi. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko