Hikmah Kebakaran Lahan Sawit PBS: Momentum Mendorong Carbon Farming dan Pencegahan Kebakaran

Heru Prayitno • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 17:19 WIB
Dr Joni
Dr Joni

 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com — Kebakaran lahan perkebunan sawit milik perusahaan besar swasta (PBS) semestinya tidak hanya dipandang sebagai persoalan pemadaman api. Peristiwa tersebut juga dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi tata kelola biomassa, kesuburan tanah, pengelolaan lahan gambut, serta strategi pencegahan kebakaran pada masa mendatang.

Pakar gambut dan pertanian berbasis carbon farming, Dr. Joni dari SMA Muhammadiyah Sampit, menilai bahwa peristiwa kebakaran tersebut memberikan pelajaran yang mahal. Menurutnya, pengalaman di lapangan dapat dijadikan bahan evaluasi dan contoh untuk memperbaiki pengelolaan lahan, terutama dalam menghadapi musim kemarau.

Carbon farming atau pertanian karbon adalah pendekatan pengelolaan pertanian dan perkebunan yang bertujuan meningkatkan penyerapan dan penyimpanan karbon dalam tanah, biomassa tanaman, serta ekosistem pertanian, sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca dari kegiatan pertanian.

Sederhananya, karbon yang terdapat dalam bahan organik tidak dibiarkan hilang begitu saja ke atmosfer melalui pembakaran atau proses dekomposisi yang tidak terkendali. Sebaliknya, karbon tersebut diupayakan untuk tetap berada dalam sistem pertanian dalam bentuk bahan organik tanah, biomassa, kompos, biochar, atau bentuk penyimpanan karbon lainnya.

Karena itu, carbon farming bukan sekadar kegiatan menanam pohon atau mengurangi emisi. Konsep ini mencakup berbagai praktik pengelolaan lahan, antara lain peningkatan kandungan bahan organik tanah, pemanfaatan biomassa pertanian, pembuatan kompos dan biochar, pengelolaan air, penggunaan tanaman penutup tanah, serta praktik budidaya yang membantu meningkatkan kesehatan tanah dan penyimpanan karbon.

Dalam konteks perkebunan sawit, pendekatan tersebut menjadi relevan karena kegiatan perkebunan menghasilkan biomassa dalam jumlah besar. Pelepah, tandan kosong, serat, limbah organik, dan bahan biomassa lainnya sebenarnya dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung produktivitas lahan. Prinsip dasarnya adalah limbah pertanian dikembalikan menjadi sumber daya pertanian.

Salah satu pelajaran yang perlu diperhatikan dari kebakaran lahan adalah pengelolaan limbah dan biomassa perkebunan.

Biomassa yang ditempatkan atau ditumpuk di area tertentu, termasuk jalur yang tidak aktif digunakan, berpotensi mengalami penumpukan bahan kering. Ketika memasuki musim kemarau panjang, material tersebut dapat kehilangan kadar air dan menjadi bahan yang mudah terbakar.

Menurut Dr. Joni, biomassa tersebut seharusnya tidak hanya dipandang sebagai limbah. Dengan teknologi yang tepat, sebagian biomassa dapat diolah menjadi biochar atau arang hayati, arang aktif, kompos, bahan pembenah tanah, maupun produk pertanian lainnya.

Biochar, misalnya, merupakan material kaya karbon yang dihasilkan melalui proses pemanasan biomassa dalam kondisi oksigen terbatas. Dalam konteks tertentu, biochar dapat digunakan sebagai pembenah tanah dan menjadi salah satu cara untuk mempertahankan sebagian karbon biomassa agar tidak seluruhnya kembali ke atmosfer dalam waktu singkat.  Dengan demikian, biomassa perkebunan dapat masuk kembali ke dalam siklus produksi.

Dari pertanian, kembali kepada pertanian.

Pendekatan ini berbeda dengan membiarkan biomassa menumpuk tanpa pengelolaan. Selain berpotensi menjadi bahan bakar ketika kering, biomassa yang mengalami dekomposisi juga menghasilkan berbagai gas. Pada lahan gambut, pengelolaan bahan organik dan tata air menjadi semakin penting karena karakteristik gambut sangat berbeda dengan tanah mineral.

Kebakaran sebagai indikator perlunya evaluasi pengelolaan karbon dan air. Kebakaran pada ekosistem hutan, gambut, maupun perkebunan tidak dapat disederhanakan hanya sebagai persoalan adanya sumber api. Tingkat kekeringan bahan bakar, kondisi vegetasi, kelembapan tanah, tata air, dan karakteristik lahan turut menentukan seberapa mudah api berkembang dan menyebar.

Pada lahan gambut, persoalannya bahkan lebih kompleks. Gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar. Ketika gambut mengalami pengeringan berlebihan, risikonya bukan hanya kebakaran vegetasi di permukaan, tetapi juga kebakaran pada lapisan gambut yang dapat berlangsung di bawah permukaan dan lebih sulit ditangani.

Karena itu, pengelolaan air merupakan bagian penting dalam pencegahan kebakaran gambut.

Pendekatan carbon farming dapat ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas: bukan hanya bagaimana menyimpan karbon, tetapi juga bagaimana menjaga tanah tetap sehat, mempertahankan bahan organik, dan mendukung kemampuan lahan mempertahankan kelembapan.

Konsep tersebut, menurut Dr. Joni, telah dicoba melalui penerapan teknologi pertanian berbasis karbon di lahan gambut oleh SMA Muhammadiyah Sampit.

Pengalaman lapangan tersebut menjadi penting karena penerapan teknologi pertanian pada lahan gambut tidak cukup hanya dinilai berdasarkan konsep atau penampilannya. Efektivitasnya juga perlu dilihat dari bagaimana teknologi tersebut bekerja dalam kondisi nyata, termasuk ketika menghadapi musim kemarau.

Dr. Joni menyebut penerapan yang dilakukan di lapangan mampu membantu mencegah terjadinya kebakaran pada lahan gambut yang dikelola.

Pengalaman tersebut juga memiliki cerita tersendiri. Pada 2024, teknologi yang dikembangkan dan diterapkan tersebut dinilai oleh juri dalam sebuah lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) belum memenuhi kriteria sebagai teknologi tepat guna. Namun, pengalaman lapangan menunjukkan bahwa teknologi tersebut tetap memiliki nilai praktis yang perlu dikaji lebih lanjut, khususnya dalam kaitannya dengan pengelolaan lahan gambut dan pencegahan kebakaran.

Perbedaan antara penilaian lomba dan pengalaman lapangan tersebut justru dapat menjadi bahan pembelajaran. Sebuah inovasi pertanian perlu diuji bukan hanya dari sisi konsep, tetapi juga dari efektivitas, keberlanjutan, biaya, kemudahan penerapan, dan manfaatnya bagi masyarakat serta lingkungan.

Kebakaran lahan selalu membawa biaya yang besar. Pemadaman membutuhkan personel, peralatan, air, mobilisasi, waktu, serta koordinasi berbagai pihak. Pada lahan gambut, tantangannya dapat menjadi lebih berat karena api dapat menjalar melalui lapisan organik di bawah permukaan.

Karena itu, strategi pengendalian kebakaran seharusnya tidak hanya berorientasi pada pemadaman setelah api muncul. Pencegahan perlu ditempatkan sebagai prioritas.

"Prinsipnya sederhana: lebih baik mengeluarkan biaya untuk mencegah kebakaran daripada mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar untuk memadamkannya," kata Joni.

Pencegahan dapat dilakukan melalui pengelolaan biomassa, pemantauan titik rawan, pengelolaan tata air gambut, pemeliharaan sekat kanal atau infrastruktur pengendalian air yang sesuai, pengurangan bahan bakar kering, serta penerapan praktik pertanian yang meningkatkan kesehatan tanah dan mempertahankan kelembapan.

Musim kemarau memberikan kesempatan untuk membandingkan bagaimana lahan yang dikelola dengan pendekatan berbeda merespons kondisi kering.

Lahan yang memiliki kandungan bahan organik dan karbon tanah yang baik, ditambah pengelolaan air yang tepat, diharapkan memiliki karakteristik berbeda dibandingkan lahan yang mengalami degradasi bahan organik dan pengeringan berlebihan.

Namun, pembuktian tersebut sebaiknya dilakukan secara ilmiah. Misalnya melalui pengukuran kadar air tanah, kandungan karbon organik tanah, kelembapan gambut, suhu permukaan, biomassa, dan indikator lainnya pada lahan yang menggunakan pendekatan carbon farming dibandingkan dengan lahan pembanding.

"Data semacam itu akan membuat manfaat teknologi dapat dinilai secara objektif, bukan hanya berdasarkan pengamatan visual," tutur Joni.

Dengan demikian, musim kemarau bukan hanya menjadi masa ketika masyarakat menghadapi ancaman kebakaran, tetapi juga kesempatan untuk menguji dan mengembangkan teknologi pencegahan yang lebih efektif.

Joni menjelaskan, pelajaran penting lainnya adalah perlunya perubahan cara pandang terhadap limbah perkebunan. Biomassa sawit tidak selalu harus dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang. Dengan teknologi yang tepat, biomassa dapat menjadi sumber bahan organik, pembenah tanah, energi, maupun produk lain yang mempunyai nilai ekonomi.

Dalam kerangka carbon farming, nilai biomassa justru terletak pada kemampuannya menjadi bagian dari siklus karbon yang lebih tertutup: karbon yang berasal dari tanaman dapat dipertahankan selama mungkin dalam tanah dan biomassa, sementara pemanfaatan bahan organik dapat membantu memperbaiki kualitas tanah.

Pendekatan tersebut sekaligus dapat membuka peluang ekonomi baru. Jika dikembangkan dengan baik, pengelolaan biomassa dapat menciptakan kegiatan ekonomi berbasis ekonomi sirkular, di mana produk samping perkebunan tidak berakhir sebagai beban lingkungan, tetapi kembali menjadi input produksi.

Menurut Joni, Kebakaran lahan PBS hendaknya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan perkebunan, terutama pada wilayah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap kebakaran.

Ada beberapa pelajaran yang dapat diambil. Pertama, biomassa harus dikelola, bukan sekadar dipindahkan atau ditumpuk. Kedua, karbon tanah perlu dipertahankan dan ditingkatkan sebagai bagian dari kesehatan tanah dan pengelolaan lahan jangka panjang. Ketiga, tata air menjadi faktor penting, khususnya pada ekosistem gambut. Keempat, pencegahan harus mendapat perhatian yang lebih besar daripada sekadar pemadaman. Kelima, inovasi pertanian perlu diuji berdasarkan kinerja nyata di lapangan, dengan dukungan data dan pengukuran ilmiah. Keenam, pengelolaan limbah perkebunan perlu diarahkan menuju ekonomi sirkular, sehingga biomassa dapat kembali memberikan manfaat bagi pertanian.

Pada akhirnya, lanjut Joni, kebakaran seharusnya tidak berhenti sebagai peristiwa yang hanya dicatat dalam laporan tahunan. Setiap kejadian harus menghasilkan pengetahuan baru, perbaikan tata kelola, dan perubahan praktik di lapangan.

Jika biomassa dapat diolah, karbon dapat disimpan, air dapat dipertahankan, tanah dapat diperbaiki, dan sumber api dapat dicegah sejak awal, maka risiko kebakaran dapat ditekan sekaligus meningkatkan produktivitas lahan.

"Inilah hikmah terbesar dari sebuah kebakaran: bukan sekadar bagaimana memadamkan api, tetapi bagaimana memastikan api yang sama tidak kembali terjadi pada tahun berikutnya," ujarnya

Editor : Heru Prayitno
karhutla