SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Bukan hanya kabut asap yang mengganggu warga Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Selasa (22/9) sore, partikel hitam berupa kelatu (abu) juga beterbangan dan masuk ke rumah-rumah warga. Teras, kendaraan, perabotan hingga pakaian yang dijemur tak luput dari paparan.
Kondisi tersebut mulai terasa setelah sekitar pukul 13.00 WIB. Padahal, pada pagi hari langit Kota Sampit sempat terlihat biru dengan kondisi udara yang relatif lebih bersih. Memasuki siang hingga sore, jerebu mulai kembali menebal disertai kelatu yang beterbangan.
Di sejumlah kawasan, kelatu terlihat menempel di berbagai permukaan. Partikel berwarna hitam itu bahkan masuk ke dalam rumah ketika jendela dibuka.
“Banyak kelatunya lah. Menempel di perabotan kalau jendela dibuka. Teras rumah jadi kotor. Parahnya, kalau menjemur pakaian di luar, baju dihinggapi kelatu. Rasanya jadi kotor lagi,” ujar Budi, warga Sampit.
Kondisi tersebut membuat warga harus lebih sering membersihkan rumah dan mempercepat mengangkat pakaian yang sedang dijemur. Selain kembali kotor, pakaian yang terpapar asap juga disebut meninggalkan aroma kurang sedap.
Keluhan serupa disampaikan Alfi, warga lainnya. Ia mengaku kondisi udara membuat pakaian yang sebelumnya bersih dan wangi berubah setelah digunakan untuk beraktivitas di luar rumah.
“Ketika sore berangkat kerja, dari rumah baju sudah wangi, bersih dan bagus. Begitu sampai kantor, baju jadi bau hangit dan kotor akibat kelatu. Mata juga terasa sangat perih saat beraktivitas di luar rumah,” katanya.
Memburuknya kondisi udara ini terjadi di tengah kabut asap yang berkaitan dengan karhutla di wilayah Kotim dan sekitarnya. Kabut asap disebut lebih terasa pada siang hingga malam hari.
Warga diimbau meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk. Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker yang sesuai, seperti masker medis atau N95, membatasi aktivitas fisik di luar ruangan, serta memperbanyak konsumsi air putih.
Kondisi udara yang sebelumnya sempat berada pada level berbahaya menjadi peringatan agar paparan asap dan partikel kelatu tidak dianggap sepele.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga dengan gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih selama kondisi udara memburuk. (ady)
Editor : Slamet Harmoko