Lahan Sengaja Dibakar dengan Ban Dalam yang Dilempar ke Semak

Rado. • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 15:55 WIB
Kebakaran lahan di dekat Perumahan Borneo New Regency, di Jalan Mohammad Hatta, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Senin (14/9/2026). (Istimewa)
Kebakaran lahan di dekat Perumahan Borneo New Regency, di Jalan Mohammad Hatta, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Senin (14/9/2026). (Istimewa)

 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Warga Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), menemukan indikasi lahan sengaja dibakar. Indikasi tersebut terlihat dari temuan ban dalam bekas dibakar yang diduga dilempar ke semak-semak hingga memicu munculnya api.

Peristiwa itu terjadi sekitar sepekan lalu. Api tiba-tiba muncul di tengah lahan yang berada di dekat kebun sengon milik warga. Warga yang mengetahui kejadian tersebut sempat mengejar orang yang diduga berada di balik munculnya api, tetapi orang tersebut berhasil melarikan diri.

Pahmi, warga setempat, mengatakan bahwa warga menemukan ban dalam bekas dibakar di sekitar lokasi. Ban tersebut diduga sengaja dilempar ke semak-semak untuk memicu kebakaran.

“Api muncul di tengah lahan. Kami kejar orangnya, tetapi tidak ketemu. Setelah dilihat, ternyata ada ban dalam bekas dibakar kemudian dilempar ke semak-semak,” kata Pahmi.

Beruntung, api berhasil dipadamkan sebelum meluas dan menjalar ke kebun sengon milik warga. Kebun tersebut berisiko ikut terbakar apabila api tidak segera dikendalikan.

“Untungnya bisa dipadamkan. Kalau tidak, kebun sengon milik tetangga kami bisa ikut terbakar,” ujarnya.

Ketua DPRD Kotim Rimbun mengutuk tindakan pembakaran lahan yang dilakukan secara sengaja. Menurutnya, pola kebakaran saat ini perlu dilihat berdasarkan karakter wilayah yang terbakar.

Rimbun menilai kebakaran yang terjadi di kawasan perkotaan dan sekitar permukiman perlu mendapat perhatian. Menurutnya, kondisi tersebut tidak serta-merta berkaitan dengan aktivitas peladang tradisional yang mayoritas berada di wilayah pelosok.

“Kalau peladang tradisional sekarang sudah jarang membuka lahan dengan sistem bakar. Masyarakat yang berladang, baik menanam padi maupun tanaman lainnya, juga sudah semakin sedikit,” katanya.

Ia mengatakan pola pengolahan lahan masyarakat juga mulai berubah. Penggunaan metode yang lebih modern membuat pembukaan lahan dengan cara membakar tidak lagi menjadi pilihan utama.

“Pengolahan lahan sudah mulai modern. Minat masyarakat untuk berladang juga sudah kurang,” ujarnya.

Karena itu, Rimbun meminta dugaan pembakaran sengaja tidak diabaikan, terutama jika kebakaran terjadi di kawasan yang tidak berkaitan dengan aktivitas perladangan masyarakat.

Ia juga menyebut kemungkinan pembukaan lahan untuk perkebunan dengan biaya murah sebagai hal yang perlu diperhatikan.

“Kecuali ada oknum yang mau membuka lahan untuk sawit dengan harga murah, bisa saja dia membakarnya,” katanya.

Rimbun menegaskan, siapa pun yang sengaja membakar lahan harus ditindak. Sebab, kebakaran tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kebun warga, permukiman, kesehatan masyarakat, serta keselamatan petugas dan relawan yang melakukan pemadaman. (ang/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
kebakaran kotawaringin timur karhutla