Kemarau Makin Panas, Karhutla Merebak: Kotim Berharap Hujan Segera Turun

M. Akbar • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 09:39 WIB
Pelaksanaan Salat Istisqa di lingkungan Pemkab Kotim, Kamis (27/8).  (Akbar/Radar Sampit)
Pelaksanaan Salat Istisqa di lingkungan Pemkab Kotim, Kamis (27/8). (Akbar/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kemarau panjang mulai menambah tekanan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Cuaca panas dan kondisi lahan yang kering membuat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menjadi ancaman.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah bersama masyarakat memanjatkan doa agar hujan segera turun dan membantu memadamkan titik-titik api.

Salat Istisqa digelar di Halaman Kantor Pemkab Kotim, Kamis (27/8). Bukan sekadar kegiatan keagamaan, salat meminta hujan itu dilakukan ketika kondisi lingkungan semakin rentan terhadap kebakaran dan kualitas udara terancam memburuk akibat asap.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, sejumlah titik api masih ditemukan di sekitar wilayah perkotaan maupun kawasan utara dan selatan Kotim. Kondisi cuaca yang panas dan minim hujan membuat upaya penanganan karhutla semakin berat.

“Hari ini kita sama-sama memohon kepada Allah SWT agar mudah-mudahan diberikan hujan. Kita tahu bersama saat ini kemarau cukup panjang dan sangat panas, sehingga banyak sekali titik api yang terjadi di sekitar kota, belum lagi di wilayah selatan maupun utara,” ujar Halikinnor.

Menurutnya, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan manusia. Pemadaman di lapangan tetap harus berjalan, tetapi kondisi kemarau yang panjang membutuhkan dukungan faktor alam, terutama hujan.

Karhutla Bukan Hanya Soal Api

Halikinnor menilai kemarau dan karhutla juga menjadi pengingat agar masyarakat lebih berhati-hati terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Ia meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan maupun tindakan lain yang dapat memperbesar risiko munculnya titik api. Kesadaran menjaga lingkungan dinilai sama pentingnya dengan upaya pemadaman ketika kebakaran sudah terjadi.

“Ini tidak mungkin hanya dengan kemampuan manusia untuk memadamkan semuanya. Kita manusia tidak punya kemampuan yang sempurna. Hanya Allah yang bisa memadamkan itu,” katanya.

Selain persoalan kebakaran, ancaman lain yang mengikuti karhutla adalah asap. Jika titik api terus bertambah, masyarakat dapat kembali menghadapi gangguan kualitas udara yang berpengaruh terhadap aktivitas sehari-hari.

Karena itu, Halikinnor mengajak masyarakat menjadikan kondisi saat ini sebagai momentum untuk melakukan introspeksi sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.

“Kita sama-sama memohon ampun atas dosa-dosa kita. Mungkin ini juga salah satu peringatan dan ujian bagi kita agar mengingat kepada Yang Maha Kuasa. Begitu juga agar kita menjaga lingkungan untuk lebih baik lagi,” ujarnya.

Pemkab Tetap Andalkan Penanganan di Lapangan

Di tengah ikhtiar melalui Salat Istisqa, penanganan karhutla tetap dilakukan oleh pemerintah dan unsur terkait. Kolaborasi dibutuhkan untuk mencegah api meluas, terutama di tengah kondisi lahan yang mudah terbakar.

Halikinnor berharap hujan segera turun sehingga titik-titik api dapat berkurang, kebakaran lebih mudah dikendalikan, dan masyarakat kembali mendapatkan udara yang sehat.

“Mudah-mudahan doa kita dijabah oleh Allah SWT, diberikan hujan, api di daerah kita bisa padam, dan kita bisa menikmati udara yang sehat kembali,” pungkasnya. (ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
salat minta hujan salat istisqa kotim karhutla kotim