Ketika Embung dan Sumur Bor Mengering saat Karhutla, OPD Kotim Bergerak Turun Tangan Suplai Air

Yuni Pratiwi Iskandar • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 20:07 WIB
SUPLAI AIR: Bupati Kotim Halikinnor didampingi Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim Rihel memantau suplai air yang dilakukan OPD untuk membantu penanganan Karhutla di Kotim, Jumat (21/8/2026). FOTO: IST/RADAR SAMPIT
SUPLAI AIR: Bupati Kotim Halikinnor didampingi Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim Rihel memantau suplai air yang dilakukan OPD untuk membantu penanganan Karhutla di Kotim, Jumat (21/8/2026). FOTO: IST/RADAR SAMPIT

 

Radarsampit.jawapos.com - Embung mengering, sumur boar tinggal kenangan. Di tengah terik kemarau panjang, pertempuran melawan Karhutla di Kotawaringin Timur kini mengandalkan satu kata: mobilitas.

Langit Sampit siang itu, Jumat (21/8/2026) lalu, tampak membentang tanpa ampun. Sengatan matahari terasa menusuk tulang, memperparah suasana di daratan yang kian rentan. 

Di tengah cuaca ekstrem yang berlangsung berkepanjangan, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan lagi sekadar potensi, melainkan teror nyata yang mengepung wilayah perkotaan.

Bukan hanya titik api yang kian beringas bermunculan, tercatat tak kurang dari 12 titik api baru membara di sekitar Kota Sampit pada hari yang sama, tetapi para penjaga garis depan juga dihadapkan pada musuh tak kasat mata yang jauh lebih mematikan: kelangkaan air.

 Baca Juga: Bukit Sebayan Terbakar, Hutan Lindung Terancam. Sekda Lamandau : Bantuan Udara Dibutuhkan!

Krisis Sembunyi di Balik Asap

Bupati Kotawaringin Timur, Halikinnor, tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Didampingi Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel. Ia turun langsung memantau armada tangki air yang dikerahkan oleh seluruh organisasi perangkat daerah (OPD). Pemandangan itu mencerminkan betapa gentingnya situasi di lapangan.

“Kita juga mengalami kendala air. Embung dan sumur bor banyak yang sudah kering. Karena itu, kita harus mengatur dan memobilisasi sumber air yang masih tersedia,” ungkap Halikinnor di sela-sela peninjauan.

Situasi ini memaksa pemda memutar otak. Ketika sumber-sumber air alami di dekat lokasi kebakaran lenyap dihisap kemarau, truk-truk tangki milik pemerintah daerah menjadi urat nadi penyelamat. Mereka bolak-balik menyuplai air bersih ke titik-titik pemadaman, memastikan petugas yang berjibaku siang dan malam tidak kehabisan amunisi untuk menjinakkan si jago merah.

 Baca Juga: Ribuan Warga Ramaikan Menuba Adat di Hulu Sungai Arut, Sekaligus Panjatkan Doa Minta Hujan

Antara Oknum dan Kepedulian Warga

Namun, kerja keras petugas pemadam seolah diuji tanpa henti. Di tengah peluh yang bercampur pekatnya asap, kemunculan titik api baru secara berulang mengindikasikan adanya faktor lain di luar cuaca ekstrem. Halikinnor menduga ada ulah tangan-tangan jahil yang dengan sengaja memantik api di tengah kekeringan parah ini.

Ia pun tidak tinggal diam. Ketegasan terpancar dari instruksinya agar masyarakat tidak ragu melapor kepada aparat penegak hukum jika menemukan oknum yang sengaja membakar lahan. Di sisi lain, kesadaran kolektif warga akar rumput juga menjadi kunci pertahanan terakhir.

“Kita minta masyarakat ikut membantu. Kalau ada api kecil di lingkungan, segera ipadamkan sebelum membesar. Kalau menemukan ada oknum yang sengaja membakar, segera laporkan kepada aparat penegak hukum,” tegasnya.

 Baca Juga: Sekolah di Kotim Kembali Tatap Muka, Jam Belajar Tetap Disesuaikan

Kabut Asap dan Imbauan Jaga Diri

 Dampak karhutla tidak hanya berhenti pada ancaman hangusnya lahan. Kepulan asap tebal kini mulai menyelimuti udara Kotim, membawa partikel polusi yang membahayakan sistem pernapasan.

Pemerintah daerah tidak ingin warga jatuh korban akibat gangguan kesehatan.

Sebuah imbauan humanis menutup rangkaian seruan darurat hari itu. Halikinnor mengingatkan warganya untuk menahan diri dari aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak.

“Untuk sementara, kalau tidak ada kepentingan yang mendesak, sebaiknya kurangi aktivitas di luar rumah. Kita harus menjaga kesehatan karena kondisi asap ini cukup mengkhawatirkan,” pungkasnya dengan nada prihatin. (*/fm)

 

Editor : Farid Mahliyannor
musim kering suplai air kemarau kotim karhutla