Petani Mengeluh, Kemarau Bikin Air Surut dan Kebakaran Mengancam Kebun Sawit

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:40 WIB
Pekerja sedang membongkar tandan buah segar kelapa sawit yang baru dipanen dari wilayah Mentaya Seberang, Kecamatan Seranau, Jumat pagi (21/8 /2026). (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit) 
Pekerja sedang membongkar tandan buah segar kelapa sawit yang baru dipanen dari wilayah Mentaya Seberang, Kecamatan Seranau, Jumat pagi (21/8 /2026). (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit) 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kemarau yang berlangsung dalam sebulan terakhir mulai menyulitkan petani kelapa sawit di sekitar anak Sungai Mentaya.

Selain harus menghadapi ancaman kebakaran lahan, petani juga kesulitan mengangkut hasil panen karena debit air sungai surut.

Kondisi tersebut membuat sebagian petani harus berjaga hingga tidak tidur demi memastikan kebun mereka aman dari kebakaran. Api yang muncul di sejumlah lahan membuat petani semakin resah.

Baca Juga: Kebakaran Lahan Eks Persawahan Kujan Belum Padam, Warga Khawatir Jaringan SUTET Terdampak

Ian, salah seorang petani, mengatakan kondisi sungai yang surut membuat pengangkutan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit menjadi terkendala. Petani harus menunggu air pasang agar kelotok dapat masuk ke anak Sungai Mentaya untuk mengambil hasil panen.

”Kalau kemarau seperti ini sulit. Sungai Kukup (anak Sungai Mentaya) surut. Sulit mengangkut sawit,” keluh Ian, Jumat (21/8/2026). 

Setelah TBS dipanen, petani tidak bisa langsung mengangkutnya melalui sungai. Mereka harus menunggu air pasang agar kelotok dapat masuk ke Sungai Kukup, mengambil hasil kebun, kemudian membawa muatan tersebut menyeberangi Sungai Mentaya menuju Kota Sampit.

Baca Juga: Kebakaran Lahan Kepung Gardu Induk PLN di Desa Kujan Lamandau

Menurut Ian, kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar sebulan terakhir. Kemarau membuat aktivitas petani menjadi lebih berat karena persoalan tidak hanya terjadi di kebun, tetapi juga saat membawa hasil panen untuk dijual.

Petani berharap hujan segera turun. Selain membantu menaikkan kembali debit air sungai, hujan juga diharapkan dapat mengurangi risiko kebakaran lahan yang terus menghantui kebun mereka.

”Kami berharap segera hujan. Kalau begini terus, resah juga menjaga kebun dan mengangkut hasil panen,” ujarnya.(oes)

Editor : Slamet Harmoko
kalteng' kemarau di kotim karhutla kotim sampit