NANGA BULIK, radarsampit.jawapos.com – Lomba bakayuh atau dayung di Sungai Lamandau, kawasan Dermaga Batu Bisa, Kelurahan Nanga Bulik, Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau, berlangsung meriah, Selasa (18/8). Warga memadati tepian sungai untuk menyaksikan perlombaan yang menjadi bagian dari peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia dan Hari Jadi ke-24 Kabupaten Lamandau.
Kegiatan yang diselenggarakan Kampung Zapin Kartawana bersama Karang Taruna Kabupaten Lamandau tersebut berlangsung selama tiga hari, 18–20 Agustus 2026.
Antusiasme warga terlihat sejak perlombaan dimulai. Masyarakat dari berbagai kalangan berdiri di sekitar Dermaga Batu Bisa untuk menyaksikan peserta mengayuh sampan. Sorakan dan dukungan penonton turut menambah kemeriahan perlombaan.
Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Lamandau Dr. Rizky Aditya Putra, anggota DPRD Kabupaten Lamandau Siti Hajar, Camat Bulik, Lurah Nanga Bulik, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, lomba bakayuh digelar untuk menghidupkan kembali tradisi masyarakat yang memiliki hubungan erat dengan sungai. Kegiatan ini sekaligus memperkenalkan Sungai Lamandau sebagai ruang aktivitas masyarakat serta mendorong pelestarian budaya dan kearifan lokal.
Bupati Lamandau Dr. Rizky Aditya Putra mengatakan, Kabupaten Lamandau memiliki kekayaan budaya yang patut dijaga dan dibanggakan masyarakat. Salah satunya budaya Kotawaringin yang tercermin dalam tradisi bakayuh atau mendayung.
“Kayanya budaya Kabupaten Lamandau, salah satunya budaya Kotawaringin, yang patut kita jadikan kebanggaan. Salah satunya melalui lomba bekayuh atau dayung ini,” ujar Bupati.
Menurutnya, budaya Kotawaringin juga memiliki berbagai tradisi yang masih dijumpai dalam kehidupan masyarakat, termasuk saat bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. Pada momentum tersebut, masyarakat biasanya membawa berbagai jenis masakan dan kue ke masjid maupun musala.
Bupati menilai masih banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang belum mengetahui dan memahami berbagai budaya lokal. Karena itu, kegiatan seperti lomba bakayuh dinilai penting untuk memperkenalkan sekaligus menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
“Masih banyak orang yang belum mengetahui budaya Kotawaringin. Ini harus terus kita lestarikan, karena budaya ini bisa menjadi salah satu warisan yang kita banggakan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Lomba Bakayuh Said Anwar mengatakan, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi perlombaan, tetapi juga mengangkat kembali sejarah kehidupan masyarakat yang dahulu bergantung pada sungai sebagai jalur transportasi.
Sebelum tersedianya jalan raya seperti sekarang, masyarakat banyak menggunakan sampan sebagai sarana utama untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Aktivitas mendayung menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang tinggal di kawasan bantaran sungai.
“Dahulu masyarakat kita menggunakan sampan dan mendayung sebagai transportasi utama. Sebelum ada jalan raya seperti sekarang, sungai menjadi jalur masyarakat untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya,” ungkap Said.
Melalui lomba bakayuh, panitia ingin mengenalkan kembali nilai sejarah tersebut kepada generasi muda. Tradisi yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sungai diharapkan tidak hanya menjadi cerita, tetapi terus dikenang dan dilestarikan melalui kegiatan positif.
“Kita ingin anak-anak muda mengetahui bahwa mendayung ini bukan sekadar olahraga atau perlombaan. Ada sejarah dan budaya masyarakat di dalamnya. Karena itu, kegiatan ini kita kemas menjadi hiburan sekaligus upaya melestarikan budaya,” jelasnya.
Said juga mengapresiasi seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan kegiatan, termasuk pemerintah daerah, Karang Taruna, sponsor, masyarakat, dan para peserta. Ia berharap lomba bakayuh dapat dilaksanakan secara rutin dan dikembangkan menjadi salah satu agenda budaya serta daya tarik wisata lokal Kabupaten Lamandau. (mex/yit)
Editor : Heru Prayitno