SAMPIT, radarsampit.jawapos.com—PT Hutanindo Agro Lestari (HAL) dan PT Uni Primacom menunjukkan kepedulian terhadap upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kedua perusahaan yang tergabung dalam Musirawas Group ini menyerahkan bantuan 40 rol selang kanvas berukuran 1,5 inci x 30 meter kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Selasa (18/8).
Bantuan tersebut diserahkan Kabag Humas Musirawas Group Anwaryono kepada Wakil Bupati Kotim Irawati, didampingi Kepala BPBD Kotim Multazam, di Kantor BPBD Kotim. Peralatan tersebut diharapkan dapat mendukung kesiapsiagaan sekaligus memperkuat penanganan karhutla yang dilakukan BPBD bersama pihak terkait.
Anwaryono mengatakan, bantuan itu merupakan bentuk dukungan perusahaan terhadap pemerintah daerah, khususnya BPBD, dalam menghadapi ancaman karhutla. “Kami berharap karhutla dapat dicegah dan ditangani secara maksimal,” kata Anwaryono.
Selain memberikan bantuan peralatan, dua perusahaan perkebunan kelapa sawit ini juga memastikan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla. Kesiapan dilakukan dengan menyiagakan personel serta sarana dan prasarana yang diperlukan untuk mendukung penanganan kebakaran.
Anwaryono juga menyampaikan keprihatinan terhadap karhutla yang terjadi di sekitar Kota Sampit hingga mendekati pemukiman, lahan pertanian, dan peternakan. Lahan yang sudah dua bulan kering karena tidak adanya hujan membuat mudah terbakar.
”Perlu peran aktif warga dalam memantau bahaya api di lingkungan masing masing. Api kecil segera diantisipasi supaya tidak menjadikan bencana yang besar,” ucapnya.
Pada kesempatan yang sama Wakil Bupati Kotim Irawati menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada PT Hutanindo Agro Lestari dan PT Uni Primacom atas kontribusi dalam mendukung penanganan karhutla di wilayah Kotim.
Menurut Irawati, dukungan peralatan sangat dibutuhkan karena BPBD masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana penanganan karhutla. Kondisi tersebut menjadi tantangan ketika kebakaran terjadi di wilayah yang cukup luas dan jauh dari sumber air.
“Peralatan yang ada tidak sebanding dengan luas area yang terbakar. Apalagi lokasi karhutla jauh dari sumber air sehingga membutuhkan selang yang panjang,” ujar Irawati.
Dengan tambahan peralatan tersebut, BPBD diharapkan dapat lebih optimal menjangkau lokasi kebakaran, terutama kawasan yang memiliki keterbatasan akses terhadap sumber air. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan unsur terkait juga dinilai penting untuk memperkuat upaya pencegahan serta penanganan karhutla di Kotim.
Irawati berharap hal sama juga dilakukan perusahaan lainnya. Selain peralatan pendukung seperti selang, saat ini para petugas di lapangan juga memerlukan suplai minuman dan makanan sehat yang cukup. Seperti air mineral dan susu.
"Kondisi di lapangan benar-benar berisiko untuk kesehatan para petugas. Mereka juga membutuhkan masker yang standar," jelas Irawati. (yit)
Editor : Heru Prayitno