SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Veteran Republik Indonesia (RI) di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kadar Usman, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai “musuh dalam selimut” yang dapat mengancam bangsa setelah Indonesia merdeka.
Menurut Kadar, tantangan bangsa Indonesia saat ini bukan lagi menghadapi penjajah dari negara asing, melainkan persoalan yang muncul dari dalam negeri. Salah satunya adalah korupsi.
“Musuh dalam selimut. Musuh dengan Belanda bisa diketahui, mudah. Tapi musuh yang dalam selimut ini yang berbahaya,” kata Kadar usai mengikuti Upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan ke-81 RI Tahun 2026 di Stadion 29 November Sampit, Senin (17/8).
Kadar menilai korupsi menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian karena dapat menghambat kemajuan dan berdampak terhadap masyarakat.
Ia mengingatkan, kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan besar harus dijaga dan diisi dengan pembangunan yang baik.
Kadar sendiri merupakan veteran yang pernah bertugas selama sekitar 30 tahun. Ia mulai masuk Angkatan Darat pada 1964 saat berusia 23 tahun, ketika Indonesia berada dalam situasi konfrontasi dengan Malaysia pada era Presiden Soekarno.
“Gaji saya pada waktu itu hanya sebelas rupiah,” ujarnya.
Pada 1966, Kadar bertugas di Kalimantan Barat untuk melaksanakan tugas melawan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) yang dipimpin Tengku Abdul Rahman. Ia kemudian bertugas di Timor-Timur pada 1977-1978.
Pria kelahiran Jawa Timur, 8 April 1943, tersebut mengenang banyak rekan seperjuangannya yang gugur dalam peperangan di Timor-Timur. Ia menyebut sekitar 600 rekannya gugur dalam tugas selama tentang waktu 1977-1978 tersebut.
“Kita berjuang banyak korban,” ucapnya lirih.
Kadar juga mengenang kondisi masyarakat saat masa penjajahan Belanda. Saat itu, ia masih berusia lima tahun pada 1948. Menurutnya, penderitaan masyarakat pada masa tersebut jauh berbeda dibandingkan kondisi sekarang.
“Penderitaan tahun 1948 dibandingkan dengan sekarang sangat jauh. Sekarang sudah merdeka, sudah enak, tapi masih banyak yang dirasakan, banyak kekurangan,” bebernya.
Ia berharap pemerintah dapat lebih teliti dan bijaksana dalam menjalankan pemerintahan serta membuat kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.
Di sisi lain, Kadar mengungkapkan perhatian terhadap kesejahteraan veteran masih menjadi persoalan. Ia menyebut kini menerima pensiun sekitar Rp2,8 juta per bulan, sedangkan saat pertama kali pensiun hanya menerima sekitar Rp85.100.
“Jika dibandingkan dengan kondisi harga saat ini, nilainya memang belum sesuai. Hal itu karena pemerintah belum mampu menyesuaikan kebijakan dengan perkembangan kondisi di lapangan.” terangnya.
Kadar menegaskan, persoalan kesejahteraan tersebut tidak hanya dirasakan veteran, tetapi juga masyarakat secara umum. Ia berharap kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan harta, air mata, dan nyawa dapat benar-benar dirasakan seluruh masyarakat. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko