SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kabut asap masih menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Minggu pagi (9/8/2026). Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan warga beraktivitas di ruang terbuka.
Pantauan di kawasan Car Free Day (CFD) Taman Kota Sampit, sejumlah warga tetap terlihat berolahraga. Mulai dari berjalan kaki, berlari, hingga menghabiskan waktu bersama keluarga.
Kabut asap memang tidak terlihat terlalu pekat. Namun, kondisi udara masih menunjukkan adanya penurunan kualitas.
"Masih banyak, tapi kabut asapnya tidak terlalu pekat," ungkap Nurul, salah seorang warga yang mengikuti aktivitas CFD.
Aktivitas warga berlangsung seperti biasa. Sebagian tetap berolahraga tanpa menggunakan masker. Kondisi ini menunjukkan aktivitas masyarakat di ruang terbuka tetap berjalan meski persoalan kualitas udara belum sepenuhnya pulih.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim Marjuki mengatakan, berdasarkan data eksternal AQI.in pada pukul 08.00 WIB, kualitas udara di wilayah Sampit berada pada angka AQI-US 114.
Angka tersebut masuk kategori Poor atau tidak sehat. Konsentrasi PM2.5 tercatat mencapai 41 mikrogram per meter kubik, sementara PM10 berada pada angka 98 mikrogram per meter kubik.
"Artinya tingkat kualitas udara yang bisa merugikan manusia, hewan dan tumbuhan," kata Marjuki.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena aktivitas olahraga membuat seseorang bernapas lebih cepat dan lebih banyak. Paparan partikulat dari udara pun berpotensi meningkat ketika aktivitas fisik dilakukan di luar ruangan.
Meski kabut asap mulai terlihat lebih tipis dibanding kondisi sebelumnya, warga tetap perlu memperhatikan perkembangan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
Terlebih, ancaman karhutla di sejumlah wilayah Kotim masih berlangsung. Asap dari titik kebakaran dapat terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara di kawasan perkotaan.
Warga yang tetap mengikuti aktivitas CFD diimbau menyesuaikan aktivitas dengan kondisi udara. Penggunaan masker juga dapat menjadi pilihan perlindungan, terutama bagi kelompok rentan ketika kualitas udara kembali memburuk. (oes)
Editor : Slamet Harmoko