Udara Sampit Sudah Tidak Sehat untuk Kelompok Sensitif

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 15:27 WIB
Dari kejauhan tampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan berada di atas langit Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur, Senin (3/8/2026). (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit) 
Dari kejauhan tampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan berada di atas langit Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur, Senin (3/8/2026). (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit) 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kondisi kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Timur mulai memburuk seiring meningkatnya dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pada Senin (3/8), indeks kualitas udara (Air Quality Index/AQI) di Sampit tercatat 124, masuk kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif.

Kondisi tersebut mulai dirasakan masyarakat. Aroma asap tercium cukup menyengat di sejumlah ruas jalan di Kota Sampit, terutama pada pagi hari.

"Ketika terhirup langsung batuk, ditambah lagi debu jalan," ujar Usna, warga yang melintas di Jalan Kapten Mulyono, Sampit.

Baca Juga: Keterbatasan Selang dan Air Menjadi Kendala Utama Penanganan Karhutla di Kotim

Berdasarkan pantauan di lapangan, sebagian warga mulai mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Namun, masih banyak pula masyarakat yang tetap beraktivitas tanpa pelindung pernapasan meski kabut asap mulai menyelimuti sejumlah kawasan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotawaringin Timur, Marjuki, mengatakan berdasarkan data The Weather Channel, kualitas udara di Kotim pada Senin berada pada nilai AQI 124 dengan kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif.

Polutan utama yang terdeteksi adalah PM2.5 dengan konsentrasi 33,88 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Menurut Marjuki, kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan maupun penyakit jantung perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi tersebut.

Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Kian Terasa di Sampit, Warga Mulai Bermasker Meski Masih Banyak Yang Abai

Ia mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dalam waktu lama serta menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Warga juga diminta segera beristirahat apabila mengalami batuk, sesak napas, pusing, atau iritasi pada mata dan tenggorokan.

"Mari bersama-sama menjaga kualitas udara dengan tidak membakar sampah maupun lahan serta mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan pencemaran udara," kata Marjuki.

Sementara itu, data Stasiun Meteorologi H. Asan Kotawaringin Timur menunjukkan jarak pandang di Sampit pada pukul 06.00 WIB sempat turun menjadi 2 kilometer dengan kondisi cuaca berupa kabut atau halimun. Pada pukul 07.00 WIB, jarak pandang membaik menjadi 5 kilometer, namun kondisi kabut masih terpantau.

Baca Juga: Update Keracunan MBG: Tes Laboratorium Keluar, SPPG di Kuala Pembuang Ditutup Sementara untuk Evaluasi

Di sisi lain, kondisi karhutla di Kotim masih perlu diwaspadai. Berdasarkan pembaruan data hotspot BMKG yang diakses pada Senin pagi, titik panas masih terdeteksi di sejumlah kecamatan, di antaranya Cempaga Hulu, Mentawa Baru Ketapang, Mentaya Hilir Utara, Teluk Sampit, Parenggean, Baamang, Telawang, Kota Besi, Antang Kalang, Bukit Santuai, Tualan Hulu, dan Telaga Antang.

BMKG juga memprakirakan wilayah Kotawaringin Timur tidak berpotensi mengalami pertumbuhan awan hujan dalam 24 jam ke depan. Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang cuaca kering sehingga risiko karhutla masih tetap tinggi. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
Kabut Asap Sampit Kualitas Udara Sampit karhutla kotim kalteng