Dinsos Kotim: Tantangan Terbesar Sekolah Rakyat adalah Meyakinkan Orang Tua

M. Akbar • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 13:50 WIB
Kegiatan belajar mengajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 55 Kotim.  (Akbar/Radar Sampit)
Kegiatan belajar mengajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 55 Kotim. (Akbar/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengakui tantangan terbesar dalam menjaring peserta didik Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 55 Kotim bukan pada proses pendataan, melainkan meyakinkan orang tua agar bersedia menyekolahkan anaknya di sekolah berasrama.

Kepala Dinsos Kotim, Hawianan, mengatakan masih banyak orang tua yang belum memahami konsep pendidikan di Sekolah Rakyat. Karena itu, pihaknya harus melakukan pendekatan secara langsung kepada keluarga calon peserta didik.

“Selama dua tahun terakhir kami masih menemukan orang tua yang belum yakin. Karena itu kami terus melakukan pendekatan dan memberikan penjelasan mengenai sistem pendidikan di Sekolah Rakyat,” ujarnya, Senin (3/8).

Baca Juga: Dinyatakan Sehat, Seluruh Pasien Keracunan MBG di Kuala Pembuang Telah Dipulangkan

Menurut Hawianan, Sekolah Rakyat merupakan program afirmasi pemerintah yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Oleh karena itu, Dinsos tidak membuka pendaftaran secara umum, melainkan menggunakan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai dasar penentuan calon peserta didik.

“Kami tidak membuka pendaftaran, tetapi menggunakan data DTSEN. Dari desil satu sampai desil lima kami datangi langsung keluarganya untuk menawarkan kesempatan bersekolah di Sekolah Rakyat,” katanya.

Ia menjelaskan, pola jemput bola dipilih agar program tepat sasaran. Selain itu, keterbatasan waktu, tenaga, dan anggaran juga menjadi pertimbangan sehingga Dinsos lebih fokus mendatangi keluarga yang masuk dalam kelompok prioritas.

“Kalau kami membuka pendaftaran secara umum, bisa saja masyarakat di luar kelompok sasaran ikut mendaftar. Karena itu kami memilih mendatangi langsung keluarga yang memang menjadi prioritas pemerintah,” jelasnya.

Baca Juga: Update Keracunan MBG: Tes Laboratorium Keluar, SPPG di Kuala Pembuang Ditutup Sementara untuk Evaluasi

Dalam proses penjaringan, Dinsos mendapat dukungan dari para pendamping sosial di tingkat kecamatan. Mereka membantu melakukan pendataan, sosialisasi, hingga memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai tujuan dan manfaat Sekolah Rakyat.

“Kami sangat terbantu oleh para pendamping sosial. Mereka ikut turun ke lapangan sehingga proses penjaringan peserta didik dapat menjangkau berbagai wilayah di Kotim,” ungkap Hawiana.

Melalui pola tersebut, Sekolah Rakyat Terintegrasi 55 Kotim pada Tahun Ajaran 2026/2027 berhasil menerima 270 peserta didik baru yang terdiri atas 50 siswa jenjang SD, 117 siswa SMP, dan 103 siswa SMA.

Jumlah tersebut melengkapi 100 peserta didik angkatan pertama yang telah lebih dahulu mengikuti proses pembelajaran.

Baca Juga: 'Yank Wes Yank' Viral di TikTok, Ini Fakta yang Sudah Diketahui dan Peringatan bagi Warganet

Hawianan berharap kepercayaan masyarakat terhadap Sekolah Rakyat terus meningkat sehingga semakin banyak anak dari keluarga kurang mampu yang memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan berkualitas.

“Harapan kami, semakin banyak masyarakat memahami tujuan Sekolah Rakyat sehingga lebih banyak anak yang dapat memanfaatkan program ini untuk meraih masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.  (Ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
sekolah asrama dinsos kotim Sekolah Rakyat kalteng