SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Cuaca panas yang berkepanjangan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga membuat kebutuhan air untuk merawat tanaman penghijauan di Kota Sampit melonjak tajam.
Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim harus menambah intensitas penyiraman di sejumlah taman kota, median jalan, hingga bundaran agar tanaman tetap bertahan di tengah musim kemarau.
Pelaksana Tugas Kepala UPTD Jalan, Jembatan dan Drainase Dinas SDABMBKPRKP Kotim, Suhardiono, mengatakan, dalam kondisi normal penyiraman membutuhkan sekitar empat tangki air setiap hari.
Namun saat cuaca panas ekstrem seperti sekarang, kebutuhan tersebut meningkat hampir dua kali lipat.
"Kalau kondisi normal sekitar empat tangki per hari. Sekarang karena panas ekstrem, pagi sekitar lima tangki dan sore tiga tangki. Jadi total delapan tangki sehari, itu pun rasanya tanaman masih kehausan," ujar Suhardiono, Senin (28/7/2026).
Menurut dia, suhu udara yang tinggi membuat kelembapan tanah cepat berkurang sehingga tanaman membutuhkan pasokan air lebih banyak dibanding hari biasa.
Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri bagi petugas lapangan yang setiap hari harus memastikan tanaman di ruang terbuka hijau tetap hidup dan tidak mengering.
Suhardiono mengatakan, salah satu lokasi yang mendapat perhatian khusus adalah Bundaran Titik Nol Kilometer Sampit. Selain menjadi ikon kota, kawasan tersebut sedang menjalani penataan menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Untuk menjaga tanaman tetap segar, pihaknya mengoptimalkan penggunaan sumur bor yang berada di kawasan bundaran.
"Sementara ini di bundaran juga harus ekstra. Syukurnya bisa difungsikan sumur bornya sehingga penyiraman tetap berjalan di segala musim," katanya.
Selain mempertahankan tanaman yang sudah ada, pemerintah juga sedang melakukan peremajaan dengan menanam enam hingga delapan jenis tanaman hias berukuran rendah.
Langkah itu dilakukan karena tanaman lama dinilai sudah tua dan tidak lagi mampu dibentuk sesuai konsep penataan kawasan.
"Nanti akan dirapikan lagi. Sekarang memang belum kelihatan maksimal karena masih tahap finishing. Kami gunakan beberapa jenis tanaman rendah supaya tampilannya lebih rapi dan mudah dirawat," jelasnya.
Penataan kawasan Bundaran Titik Nol menjadi bagian dari program mempercantik wajah Kota Sampit menjelang Agustus. Selain mengganti tanaman, pemerintah juga menambahkan tulisan identitas "Kab Kotim" serta memasang lampu LED agar kawasan terlihat lebih menarik pada malam hari.
Di sisi lain, pekerjaan pengecatan median jalan dan trotoar juga terus dikebut. Hingga akhir Juli, progres pengecatan telah mencapai sekitar 60 persen, sedangkan penataan taman sekitar 70 persen.
Pekerjaan tersebut meliputi Jalan Tjilik Riwut, Jalan Ahmad Yani, Jalan HM Arsyad, Jalan MT Haryono, Jalan Kapten Mulyono, Jalan Cut Nyak Dien, hingga Jalan Suprapto.
"Kami targetkan pengecatan selesai 10 Agustus. Untuk Bundaran Titik Nol tinggal finishing, sedangkan beberapa taman seperti di Jalan Tjilik Riwut dan Ahmad Yani kemungkinan sedikit mundur," ungkap Suhardiono.
Ia berharap seluruh pekerjaan dapat rampung sesuai target sehingga wajah Kota Sampit tampil lebih bersih, hijau, dan menarik saat masyarakat merayakan HUT Ke-81 RI, meski harus menghadapi tantangan cuaca panas yang masih berlangsung. (oes)
Editor : Slamet Harmoko