Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Ternyata Hal Ini Yang Bikin Mundur Awal Musim Kemarau di Kotim

Usay Nor Rahmad • Jumat, 17 Juli 2026 | 14:15 WIB
Suasana salah satu jalan di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, saat terjadi hujan deras. (Dok.Usay Nor Rahmad/Radar Sampit) 
Suasana salah satu jalan di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, saat terjadi hujan deras. (Dok.Usay Nor Rahmad/Radar Sampit) 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap salah satu penyebab mundurnya awal musim kemarau di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada 2026. Selain dipengaruhi dinamika atmosfer, pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) turut berkontribusi mempertahankan curah hujan hingga akhir Juni.

Akibat kondisi tersebut, awal musim kemarau yang semula diprakirakan terjadi pada awal Juni bergeser menjadi Juni dasarian II atau sekitar pertengahan Juni. Pergeseran itu juga berdampak pada mundurnya prediksi puncak musim kemarau dari Agustus menjadi September.

Kepala Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, mengatakan hasil evaluasi terbaru BMKG menunjukkan awal musim kemarau di Kotim tidak datang sesuai prakiraan awal.

"Awalnya diprakirakan awal musim kemarau itu awal Juni, tetapi bergeser ke Juni dasarian II. Pada awal Juni masih ada kegiatan Operasi Modifikasi Cuaca sehingga sampai akhir Juni curah hujan masih lumayan banyak," ujarnya, Jumat (17/7/2026).

Menurut Mulyono, curah hujan yang masih cukup tinggi sepanjang Juni membuat transisi menuju musim kemarau berlangsung lebih lambat dibandingkan prediksi sebelumnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pembaruan prakiraan musim di Kotim.

Ia menjelaskan, setelah dilakukan peninjauan ulang terhadap perkembangan cuaca dan iklim, BMKG akhirnya merevisi prakiraan puncak musim kemarau menjadi September 2026.

"Pada rilis pertama kami, puncak musim kemarau diprakirakan Agustus. Namun setelah kami review kembali, untuk Kotim puncak kemarau diperkirakan terjadi pada September. Jadi ada pergeseran," katanya.

Meski awal musim kemarau mundur, BMKG memperkirakan durasi musim kemarau tahun ini tetap berlangsung cukup panjang. Bahkan, kondisi kemarau diprediksi lebih kering dibandingkan beberapa tahun terakhir seiring menguatnya fenomena El Nino.

Karena itu, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat memanfaatkan informasi prakiraan musim sebagai dasar dalam menyusun langkah antisipasi, terutama pada sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, serta pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Mulyono menegaskan, pembaruan prakiraan dilakukan agar informasi yang diterima masyarakat sesuai dengan kondisi cuaca terkini, sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan lebih tepat sasaran.

"Kami terus memantau perkembangan kondisi atmosfer dan akan menyampaikan pembaruan apabila terdapat perubahan signifikan terhadap prakiraan musim," pungkasnya. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
musim kemarau sampit modifikasi cuaca kotim hujan