SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Musim kemarau menjadi tantangan berat bagi petani sawi di Jalan Rambutan, Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim).
Selain kesulitan mendapatkan pasokan air untuk penyiraman, mereka juga harus menghadapi serangan penyakit tanaman dan kenaikan harga pupuk yang meningkatkan biaya produksi.
Salah seorang petani, Karni, mengatakan keterbatasan air saat musim kemarau membuat tanaman sawi lebih mudah terserang penyakit. Kondisi itu memaksa petani memberikan perawatan lebih intensif agar tanaman tetap tumbuh dengan baik.
Baca Juga: Pemkab Gumas Edukasi ASN Soal Investasi Aman
"Kalau musim kemarau air sedikit, tanaman sawi juga sering terkena penyakit, jadi perawatannya lebih sulit," ujarnya.
Di sisi lain, harga pupuk juga mengalami kenaikan cukup signifikan. Pupuk kandang yang sebelumnya dijual sekitar Rp10 ribu per sak kini naik menjadi Rp18 ribu per sak.
Sementara pupuk urea kemasan 5 kilogram meningkat dari Rp60 ribu menjadi Rp70 ribu.
Baca Juga: Panen Raya Padi di Lahan 25.817 Hektare, Kalteng Dukung Asta Cita Presiden RI
Menurut Karni, kenaikan harga pupuk tersebut semakin membebani petani di tengah cuaca yang kurang bersahabat. Biaya produksi terus meningkat, sementara hasil panen berpotensi menurun akibat dampak musim kemarau.
Meski demikian, ia tetap berupaya merawat tanaman sawinya agar tetap produktif. Karni berharap harga pupuk kembali turun sehingga beban petani dapat berkurang.
"Harapan saya semoga harga pupuk bisa turun, soalnya sekarang apa-apa serba mahal," harapnya. (ian/fm)
Editor : Farid Mahliyannor