SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Warga di Jalan Muchran Ali, Gang Reformasi, Kelurahan Baamang Tengah, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur, mengeluhkan kemunculan ulat bulu yang menyerbu permukiman mereka.
Gangguan tersebut telah berlangsung hampir sepekan dan semakin mengkhawatirkan karena ulat tidak hanya berada di pekarangan, tetapi juga masuk ke dalam rumah.
Berdasarkan pantauan warga, Rabu (8/7/2026), puluhan ulat bulu terlihat merayap di dinding, lantai hingga halaman rumah. Kondisi itu membuat aktivitas sehari-hari terganggu, terutama bagi keluarga yang memiliki anak kecil.
Salah seorang warga mengatakan, jumlah ulat bulu terus bertambah dalam beberapa hari terakhir. Ia mengaku khawatir bulu ulat dapat memicu gangguan kesehatan seperti gatal-gatal dan reaksi alergi.
"Sudah hampir satu minggu ini kondisinya makin parah. Ulat bulunya sampai masuk ke dalam rumah. Satu rumah bisa ada puluhan ekor. Kami khawatir bisa menyebabkan gatal-gatal dan alergi," ujarnya.
Keluhan warga akhirnya mendapat respons dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Kotawaringin Timur. Petugas menerima laporan dari warga melalui layanan darurat WhatsApp pada Kamis (9/7/2026) pukul 10.18 WIB.
Menindaklanjuti laporan tersebut, personel Peleton II Regu II berangkat menuju lokasi pada pukul 12.58 WIB. Setibanya di lokasi sekitar pukul 13.20 WIB, petugas berkoordinasi dengan pemilik rumah dan Dinas Pertanian sebelum melakukan penilaian kondisi (size up).
Petugas kemudian melakukan penyemprotan menggunakan pestisida kimia khusus serangga di dalam rumah maupun di halaman sekitar untuk mengendalikan penyebaran ulat bulu. Operasi penanganan selesai sekitar pukul 14.20 WIB tanpa kendala berarti.
Operasi tersebut melibatkan tujuh personel Disdamkarmat menggunakan satu unit kendaraan operasional Hilux Silver. Lokasi yang ditangani berada sekitar 2,8 kilometer dari Markas Komando Disdamkarmat Kotim.
Fenomena ledakan populasi ulat bulu bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Kasus serupa pernah melanda Probolinggo, Jawa Timur, pada 2011 hingga menarik perhatian para peneliti.
Berdasarkan hasil kajian saat itu, ledakan populasi ulat bulu dipengaruhi oleh berkurangnya musuh alami seperti burung dan serangga predator, perubahan kondisi lingkungan, serta melimpahnya tanaman yang menjadi sumber makanan ulat. Kombinasi faktor tersebut menyebabkan populasi ulat berkembang sangat cepat.
Penanganan yang dilakukan di berbagai daerah umumnya meliputi pembersihan sarang dan kepompong, pemangkasan ranting yang dipenuhi ulat, penyemprotan insektisida sesuai rekomendasi petugas, serta menjaga keberadaan musuh alami agar keseimbangan ekosistem tetap terpelihara.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi mengenai penyebab pasti kemunculan ulat bulu di kawasan Baamang Tengah.
Meski demikian, langkah awal pengendalian telah dilakukan Disdamkarmat bersama Dinas Pertanian untuk menekan penyebaran hama tersebut.
Warga berharap penanganan lanjutan segera dilakukan agar populasi ulat bulu tidak kembali meningkat dan mengganggu permukiman. (oes)
Editor : Slamet Harmoko