Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Kotim Makin Terik, BMKG Pastikan Musim Kemarau Sudah Dimulai

Usay Nor Rahmad • Minggu, 28 Juni 2026 | 12:32 WIB
Terik matahari siang hari di Sampit, membuat suhu udara mencapai 33,8 derajat Celcius. BMKG memastikan kini musim kemarau. (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit)
Terik matahari siang hari di Sampit, membuat suhu udara mencapai 33,8 derajat Celcius. BMKG memastikan kini musim kemarau. (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Cuaca panas semakin terasa di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam beberapa hari terakhir. Hujan yang mulai jarang turun membuat suhu udara meningkat, sementara kondisi lingkungan di sejumlah wilayah menjadi lebih kering dan berdebu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan Kotim telah memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut ditandai dengan menurunnya curah hujan akibat dinamika atmosfer yang kurang mendukung pembentukan awan hujan.

Prakirawan BMKG Kotawaringin Timur Rahmat Wahidin Abdi mengatakan, suhu udara di Kotim saat ini mencapai 33,8 derajat Celsius. Meski masih terdapat peluang hujan ringan, intensitasnya diperkirakan rendah dan hanya terjadi di beberapa lokasi.

"Suhu dapat  mencapai 33,8 derajat Celsius. Meski begitu, masih ada potensi hujan ringan berskala lokal antara sore hingga malam hari dengan probabilitas yang rendah. Karena Kotim sudah memasuki musim kemarau, curah hujan memang akan semakin berkurang dibanding biasanya," ujarnya, Sabtu (27/6/2026).

Menurut Rahmat, cuaca cerah akan lebih sering mendominasi selama musim kemarau. Akibatnya, suhu udara pada siang hari terasa lebih panas dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

Dampak musim kemarau mulai dirasakan masyarakat. Salah seorang warga Kecamatan Cempaga, Ardi, mengatakan hujan yang tidak turun selama beberapa hari terakhir membuat jalanan mulai dipenuhi debu.

"Sudah beberapa hari ini tidak hujan. Jalan-jalan sudah mulai berdebu. Kalau ada kendaraan lewat, debunya langsung beterbangan sehingga cukup mengganggu," katanya.

Ia mengaku cuaca panas juga membuat aktivitas di luar ruangan menjadi kurang nyaman. Warga berharap hujan masih turun sesekali agar suhu udara lebih sejuk dan debu di jalan dapat berkurang.

Selain menyebabkan cuaca lebih terik, musim kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Vegetasi yang mulai mengering, terutama di kawasan lahan gambut, menjadi lebih mudah terbakar apabila terdapat sumber api.

BMKG mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

Masyarakat juga diminta terus memantau informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG sebagai langkah antisipasi selama musim kemarau berlangsung. (oes/sla)

 

Editor : Slamet Harmoko
#panas terik #musim kemarau #BMKG #sampit #kotim