SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Fenomena embun tebal yang menyelimuti sejumlah wilayah di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dalam beberapa hari terakhir mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat.
Di tengah cuaca yang semakin panas dan meningkatnya kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kabut putih yang muncul sejak dini hari itu kerap disangka sebagai kabut asap.
Pantauan pada Selasa pagi (23/6/2026), kabut cukup tebal terlihat menyelimuti sejumlah kawasan di Kota Sampit. Jarak pandang pengguna jalan menjadi terbatas, terutama pada jam-jam awal pagi sebelum matahari terbit sempurna.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotawaringin Timur pada pukul 07.00 WIB, kondisi cuaca di Sampit terpantau berkabut dengan jarak pandang hanya 900 meter.
Suhu udara tercatat 23 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 99 persen, sementara kondisi angin tenang atau tidak bergerak.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga khawatir kabut yang muncul merupakan tanda awal datangnya kabut asap akibat karhutla yang biasanya terjadi saat musim kemarau.
Dayah, salah seorang warga Sampit, mengaku fenomena embun tebal yang muncul pada pagi hari membuat dirinya teringat pada kondisi kabut asap yang pernah melanda daerah ini pada tahun-tahun sebelumnya.
"Belakangan ini pagi hari sudah sering berkabut. Selain itu, malam hari di sekitar Jalan Kapten Mulyono juga kadang tercium bau asap. Jadi sempat khawatir jangan-jangan kabut asap datang lebih awal," ujarnya.
Menurut Dayah, bau asap tersebut tidak selalu muncul setiap malam, namun cukup sering tercium dalam beberapa waktu terakhir, terutama saat cuaca sedang panas dan hujan jarang turun.
Fenomena embun tebal ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas karhutla di wilayah Kotim. Berdasarkan data BPBD Kotim, hingga 22 Juni 2026 telah tercatat 49 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 102,22 hektare.
Meski demikian, kabut yang terlihat pada pagi hari ini lebih disebabkan oleh tingginya kelembapan udara. Saat suhu udara turun pada malam hingga dini hari, uap air di atmosfer mengembun dan membentuk lapisan kabut di dekat permukaan tanah.
Namun bagi masyarakat Sampit, kemunculan kabut tebal di musim kemarau tetap menjadi perhatian tersendiri. Pengalaman menghadapi bencana kabut asap akibat karhutla pada tahun-tahun sebelumnya membuat warga lebih peka terhadap setiap perubahan kondisi udara yang terjadi.
Masyarakat berharap upaya pencegahan karhutla terus diperkuat agar musim kemarau tahun ini tidak berkembang menjadi bencana kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan, aktivitas, maupun transportasi.
Selain itu, warga juga diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani lebih cepat sebelum meluas. (oes)
Editor : Slamet Harmoko