SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Kemajuan teknologi digital yang semakin pesat dinilai membawa tantangan baru bagi generasi muda, yakni meningkatnya risiko isolasi sosial.
Kondisi ini menjadi perhatian Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) karena dapat memengaruhi kemampuan anak dan remaja dalam bersosialisasi serta membangun hubungan dengan lingkungan sekitarnya.
Kepala Kemenag Kotim, Nur Widiantoro, mengatakan penggunaan teknologi yang semakin intens membuat banyak pelajar lebih banyak berinteraksi melalui perangkat digital dibandingkan berkomunikasi secara langsung dengan keluarga maupun masyarakat.
“Di era digital ini, pelajar-pelajar kita mulai dari tingkat TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi mulai mengalami gejala terisolasi. Setelah pulang ke rumah, mereka lebih banyak berinteraksi dengan telepon genggam dan teknologi dibandingkan dengan lingkungan sekitar,” ujarnya, Selasa (16/6).
Menurut Nur Widiantoro, fenomena tersebut perlu mendapat perhatian serius karena manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial yang membutuhkan interaksi, komunikasi, dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengakui perkembangan teknologi membawa banyak manfaat, mulai dari kemudahan memperoleh informasi hingga mendukung proses belajar dan aktivitas lainnya. Namun, tanpa pengawasan dan pendampingan yang baik, penggunaan teknologi yang berlebihan dapat menimbulkan dampak sosial yang kurang sehat.
“Kadang mereka tidak lagi peduli dengan lingkungan sekitar, kurang berinteraksi dengan orang tua, dan tidak membaur dengan masyarakat. Yang dihadapi setiap hari adalah teknologi. Ini tentu memiliki dampak positif, tetapi juga ada dampak negatif yang harus diantisipasi,” tambahnya.
Nur Widiantoro menilai salah satu cara untuk mencegah isolasi sosial adalah dengan memperbanyak kegiatan yang mendorong interaksi langsung, baik melalui aktivitas sosial, pendidikan maupun keagamaan.
Menurutnya, ruang-ruang pertemuan yang mempertemukan masyarakat secara langsung sangat penting untuk menjaga hubungan sosial tetap terjalin.
“Bagaimanapun manusia harus bersosialisasi dan hidup bermasyarakat. Sosialisasi itu menekankan pentingnya bertemu, bersilaturahmi, saling berbagi pengalaman, dan mempererat persaudaraan,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menanamkan nilai toleransi kepada generasi muda sejak dini. Di tengah keberagaman suku, budaya, dan agama yang dimiliki Indonesia, sikap saling menghormati dinilai menjadi modal utama dalam menjaga kerukunan masyarakat.
“Kerukunan yang sudah terbangun dengan baik harus terus dijaga. Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, tetapi justru menjadi kekuatan untuk membangun kebersamaan,” ungkapnya.
Nur Widiantoro mengajak generasi muda agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa mengabaikan kehidupan sosial di lingkungan sekitar. Ia berharap masyarakat tetap menjaga silaturahmi, memperkuat toleransi, dan meningkatkan kualitas kehidupan beragama agar tercipta kehidupan yang harmonis dan damai.
“Mari tingkatkan silaturahmi, jaga toleransi, dan perkuat iman kepada Tuhan. Dengan begitu, kehidupan bermasyarakat akan tetap harmonis, damai, dan penuh kebersamaan,” tutupnya. (ktr-2).
Editor : Slamet Harmoko