Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Kedai Kopi Menjamur, Gaya Nongkrong Baru Warga Kotawaringin Barat

Koko Sulistyo • Senin, 25 Mei 2026 | 21:15 WIB
Pengunjung Kedai Kopi Titik Kumpul Beban Keluarga di lorong Pasar Indra Kencana, Kelurahan Raja Kecamatan Arsel, Kabupaten Kobar, belum lama ini. (ISTIMEWA/RADAR SAMPIT)
Pengunjung Kedai Kopi Titik Kumpul Beban Keluarga di lorong Pasar Indra Kencana, Kelurahan Raja Kecamatan Arsel, Kabupaten Kobar, belum lama ini. (ISTIMEWA/RADAR SAMPIT)

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Tren ngopi dan nongkrong kini kian menjamur di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Fenomena itu ditandai dengan bermunculannya puluhan kedai kopi di Kota Pangkalan Bun hingga Kecamatan Kumai dalam dua tahun terakhir.

Jika dahulu penikmat kopi identik dengan kalangan pria dewasa yang menikmati kopi di teras rumah atau warung sederhana, kini budaya ngopi telah merambah berbagai kalangan, terutama anak muda dari beragam profesi.

Di Kecamatan Kumai, kedai kopi jalanan hingga coffee shop modern berkonsep estetik terus bermunculan. Beragam menu ditawarkan, mulai kopi lokal khas Kobar hingga kopi kekinian dengan berbagai varian rasa.

Menariknya, sebagian besar usaha kedai kopi tersebut digerakkan anak muda dan pelaku UMKM lokal. Segmen konsumennya pun beragam, mulai pelajar, pekerja, hingga wisatawan yang singgah di Kumai.

Pertumbuhan kedai kopi disebut meningkat signifikan sejak awal 2024 hingga Mei 2026. Sebagian besar terkonsentrasi di sepanjang Jalan Iskandar Pangkalan Bun hingga kawasan Pelabuhan Kumai, bahkan mulai merambah area perumahan.

Salah seorang penikmat kopi di Ayra Coffee Kumai, Akhmad Subandi, menilai tren tersebut dipicu meningkatnya mobilitas masyarakat, pertumbuhan ekonomi, hingga perubahan gaya hidup generasi muda.

“Minum kopi adalah penyemangat kita bekerja. Di Kecamatan Kumai banyak yang berkarya membuat warung-warung kopi hingga sekarang menjamur kedai kopi,” ujarnya.

Menurutnya, agar usaha kedai kopi tetap bertahan, pelaku usaha harus mampu mempertahankan cita rasa dan kekhasan kopi yang disajikan, sekaligus memanfaatkan potensi lokal.

Ia menambahkan, banyak pemilik kedai memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi, termasuk menggelar live music dan kegiatan komunitas untuk menarik pelanggan. Bahkan beberapa kedai mulai bermitra dengan petani kopi lokal untuk menyajikan kopi robusta khas daerah.

“Menjamurnya kedai kopi membuka peluang kerja baru. Ini jadi ruang kreatif anak muda dan penggerak ekonomi lokal,” katanya.

Sementara itu, penikmat kopi lainnya, Syamsudin, mengaku kedai kopi kini bukan sekadar tempat nongkrong, tetapi juga ruang berdiskusi dan membangun relasi pekerjaan.

Ia juga menyebut suasana santai di kedai kopi menjadi cara melepas penat setelah seharian beraktivitas.

“Tempat ngopi yang asyik di kedai kopi Titik Kumpul Beban Keluarga di lorong Pasar Indra Kencana, vibe-nya dapet banget, selain itu kopinya juga mantap,” pungkasnya. (tyo/sla)

 

 

 

 

Editor : Slamet Harmoko
#kopi #kafe #kobar #Pangkalan Bun #kedai kopi