Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Gunakan Kayu Ulin dan Baja Serkel, Pisau Sembelih Kurban Asal Sampit Diminati Pembeli

Usay Nor Rahmad • Kamis, 14 Mei 2026 | 20:45 WIB
Surya Dinar memperlihatkan pisau kurban karyanya. Menjelang Iduladha, pesanan pisau di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur meningkat. (Surya Dinar/Radar Sampit)
Surya Dinar memperlihatkan pisau kurban karyanya. Menjelang Iduladha, pesanan pisau di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur meningkat. (Surya Dinar/Radar Sampit)

 SAMPIT, radarsampit.jawapos.com  – Menjelang Iduladha 2026, permintaan pisau sembelih di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai meningkat.

Salah satu perajin lokal yang kebanjiran pesanan adalah Surya Dinar alias Amang I’in, warga Sampit yang memproduksi pisau sembelih untuk kurban berbahan baja serkel dengan gagang kayu ulin khas Kalimantan.

Usaha rumahan yang dijalankannya sejak lima tahun terakhir itu bermula dari hobinya mengoleksi pisau. Dari sekadar mencoba membuat sendiri, kini produk racikannya diminati masyarakat hingga luar Kalimantan.

“Awalnya cuma suka pisau, lalu coba bikin sendiri. Lama-lama ternyata banyak yang suka. Dulu cuma teman-teman yang pesan, sekarang sudah jual untuk masyarakat umum,” kata Amang I’in, Kamis (14/5/2026).

Pisau buatannya diproduksi di sebuah ruko di Jalan Antasari, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit. Menjelang musim kurban, jumlah pesanan meningkat dibanding hari biasa.

Untuk memenuhi permintaan pasar, ia bahkan mulai menyiapkan stok sejak dua bulan sebelum Iduladha. Dalam proses produksinya, Amang I’in menggunakan bahan mata gergaji baja serkel yang dikenal kuat dan tahan lama.

Meski dibuat tanpa teknik tempa tradisional, pisau racikannya tetap memiliki tingkat ketajaman tinggi. Ia bahkan memperlihatkan kemampuan pisaunya dengan menyayat selembar kertas hingga putus dengan mudah.

“Biasanya produksi ramai di momen tertentu saja, terutama Iduladha. Bahannya dari baja gergaji serkel, dibentuk pakai gerinda, lalu dipanaskan dan disepuh,” ujarnya.

Menurut dia, proses paling sulit dalam pembuatan pisau adalah membentuk bilah agar presisi dan benar-benar tajam. Tahapan itu membutuhkan ketelitian serta waktu pengerjaan yang cukup lama.

Untuk satu pisau sembelih lengkap dengan gagang dan sarung, ia membutuhkan waktu produksi sekitar satu minggu. Sedangkan pisau seset daging yang ukurannya lebih kecil bisa selesai dalam dua hari.

“Pisau sembelih panjangnya sekitar 25 sampai 40 sentimeter. Kalau pisau seset sekitar 15 sampai 20 sentimeter,” jelasnya.

Selain bilah pisaunya, penggunaan kayu ulin pada bagian gagang menjadi ciri khas tersendiri. Kayu khas Kalimantan itu dipilih karena dikenal kuat dan tahan lama.

“Yang jadi pembeda itu gagangnya pakai kayu ulin, jadi lebih khas dan kuat,” ucapnya.

Harga pisau sembelih buatan Amang I’in dibanderol mulai Rp400 ribu hingga Rp500 ribu. Ia juga menjual pisau produksi lokal berbahan premium dengan harga mencapai Rp1 juta, sementara pisau impor dijual lebih mahal lagi.

Menurutnya, jenis yang paling banyak diminati pembeli adalah pisau sembelih di kisaran harga Rp500 ribu. Sementara pecinta pisau yang memahami kualitas bahan biasanya memilih produk premium.

“Tiap pisau keuntungan sekitar Rp50 ribu untuk pisau seset daging. Kalau pisau sembelih bisa sampai Rp200 ribu, tergantung ukuran, jenis, dan bahan,” ungkapnya.

Pada momentum Iduladha tahun lalu, Amang I’in mengaku berhasil menjual sekitar 40 pisau sembelih dan lebih dari 100 pisau seset daging. Produknya kini tak hanya dipasarkan di Sampit, tetapi juga dikirim ke sejumlah daerah di Pulau Jawa hingga Sulawesi.

“Alhamdulillah sekarang sudah ada pelanggan dari luar Kalimantan juga, terakhir kirim ke Palu,” tandasnya.(oes)

Editor : Slamet Harmoko
#pisau sembelih #kurban #sampit #kotim #kalteng