Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Layanan Kesehatan Berbasis Data, Dua Desa di Kotim jadi Contoh

Yuni Pratiwi Iskandar • Senin, 27 April 2026 | 20:32 WIB
ilustrasi Layanan Kesehatan Berbasis Data/AI
ilustrasi Layanan Kesehatan Berbasis Data/AI

 

SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Upaya memperkuat layanan kesehatan dari tingkat desa mulai menunjukkan hasil di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Dua desa percontohan program Integrasi Layanan Primer (ILP) dinilai berhasil meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus mendorong deteksi dini penyakit secara lebih efektif.

Kepala Dinas Kesehatan Kotim Umar Kaderi menyebut keberhasilan tersebut terlihat dari sistem pendataan kesehatan masyarakat yang kini lebih lengkap dan terintegrsi.

Baca Juga: Truk Over Tonase dan Pencuri Diduga Jadi Biang Kerok Kerusakan Jembatan Patah Kapten Mulyono

“Seluruh penduduk di dua desa itu sudah terdata dengan baik, termasuk riwayat penyakitnya. Ini memudahkan tenaga kesehatan dalam melakukan pemantauan,” ujarnya.

Berbeda dengan sistem lama yang berbasis poli, ILP mengedepankan pendekatan klaster sehingga pelayanan menjadi lebih menyeluruh. Program ILP sendiri suda h mulai diterapkan sejak 2024. 

Pasien yang datang ke fasilitas kesehatan kini langsung menjalani skrining awal secara komprehensif. Seluruh data, mulai dari identitas, riwayat penyakit hingga keluhan, dicatat dalam satu sistem yang terhubung dengan basis data Kementerian Kesehatan.

Baca Juga: Arsenal kembali Rebut Puncak Klasemen EPL 2025/2026. Posisi Masih Belum Aman

Dua desa yang menjadi proyek percontohan tersebut adalah Desa Telaga Baru dan Desa Bangkuang Makmur, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Program ini didukung pendanaan dari Global Fund dengan penguatan layanan di puskesmas pembantu (Pustu).

Di masing-masing desa, pelayanan ditopang minimal satu perawat, satu bidan, serta dua kader kesehatan yang bekerja secara terintegrasi. Mereka tidak hanya melayani pasien, tetapi juga aktif melakukan pendtaan dan pemantauan kondisi kesehatan warga.

Hasilnya, berbagai penyakit seperti tuberkulosis, demam berdarah, hingga hepatitis dapat dideteksi lebih dini. Bahkan kondisi pra-penyakit seperti prehipertensi sudah mulai teridentifikasi sebelum berkembang lebih serius.

Baca Juga: Cegah Kekeringan dan Karhutla, Kotim Perkuat Tiga Lini Pengawasan

Selain itu, data yang dihimpun juga dapat dipantau secara real time melalui aplikasi. Hal ini memudahkan pemeribtah dalam membaca tren penyakit dan menentukan langkah intervensi yang tepat di setiap wilayah.

“Dari data itu kita bisa mengetahui potensi penyakit di suatu desa, sehingga penanganannya bisa lebih cepat dan tepat sasaran,” jelas Umar.

Keberhasilan ini diharapkan dapat direplikasi di desa lain di Kotim. Dengan cakupan yang lebih luas, sistem deteksi dini dan upaya pencegahan penyakit diyakini akan semakin optimal.

Baca Juga: Pelajar Tenggelam di Parenggean Ditemukan Meninggal Dunia, Jenazah Dievakuasi ke RS Pratama

“Harapan kami, dua desa ini bisa menjadi contoh. Jika diterapkan secara menyeluruh, kualitas layanan kesehatan di tingkat desa akan meningkat signifikan,” tandasnya. (yn/fm) 

Editor : Farid Mahliyannor
#integrasi layanan primer #kesehatan #program #kotim #pelayanan