SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai penyakit yang berpotensi meningkat selama musim kemarau.
Hal ini disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kotim Nugroho Kuncoro Yudho dalam rapat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta bencana kekeringan pada Selasa (7/4/2026).
Menurut Nugroho, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) saat ini cukup tinggi, terutama di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Parenggean. Peningkatan tersebut berkaitan erat dengan kondisi cuaca kering yang memicu penurunan kualitas udara.
Baca Juga: Warga Palangka Raya Diingatkan Waspada Curanmor dan Judol
“ISPA memang cenderung meningkat saat musim kemarau, terutama di wilayah yang terdampak kabut asap atau debu,” ujarnya.
Selain ISPA, potensi penyakit lain juga muncul akibat adanya genangan air kecil yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Meski demikian, dia memastikan bahwa Kotim telah berhasil mengeliminasi malaria sejak 2018.
“Untuk malaria, Alhamdulillah sudah eliminasi. Kalaupun ada kasus, biasanya berasal dari luar daerah seperti Papua atau Maluku, bukan penularan lokal,” jelasnya.
Baca Juga: DPR RI: Negara Tak Boleh Kalah! Bongkar Kasus Tambang Ilegal di Kalteng Sampai Tuntas
Namun demikian, penyakit demam berdarah dengue (DBD) tetap menjadi perhatian. Kasus DBD di Kotim terjadi setiap tahun, meski dalam dua tahun terakhir, yakni 2024 dan 2025, mengalami penurunan dibandingkan 2023 yang sempat melonjak tinggi secara nasional.
Memasuki 2026, hingga Maret tercatat sebanyak 37 kasus DBD. Angka terdebut dinilai perlu diwaspadai karena berpotensi meningkat apabila tidak dikendalikan.
“Kalau tren ini terus bergerak, bisa saja kasus tahun ini melampaui 2025. Walaupun tidak setinggi 2023, tetap harus kita tekan agar tidak sampai ratusan kasus,” tegasnya.
Baca Juga: Antisipasi Gangguan Keamanan di Blok Tahanan, Lapas Sampit Perketat Patroli Malam
Selain penyakit menular, Dinkes juga menyoroti penyakit kulit seperti scabies (kudis) dan infeksi jamur yang kerap muncul saat kondisi lingkungan kurang bersih.
Dampak kesehatan lain yang perlu diantisipasi adalah faktor eksternal (eksogen) seperti dehidrasi akibat suhu panas. Meski suhu di Kotim masih relatif aman, risiko kekurangan cairan tetap ada jika masyarakat kurang mengonsumsi air putih.
Di sisi lain, kemarau panjang juga berpotensi memengaruhi sektor pertanian yang berdampak pada ketahanan pangan dan gizi masyarakat.
Baca Juga: Terdakwa Kasus Korupsi Pabrik Tepung Ikan di Kumai Dituntut 5,5 Tahun
“Kalau terjadi gagal panen, tentu akan berdampak pada asupan gizi masayrakat,” imbuhnya.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Kotim mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air, memastikan air minum telah direbus hingga suhu 100 derajat Celsius, serta menggunakan masker pada kondisi tertentu.
Saat ini, ketersediaan masker masih mencukupi, dengan sekitar 3.500 masker anak dan 60.000 masker dewasa. Sementara itu, stok oralit tersisa sekitar 2.000 sachet dan akan ditambah melalui permintaan ke pemerintah provinsi.
Baca Juga: Kurir Sabu di Lamandau Dituntut Jaksa dengan Penjara 6 Tahun
Nugroho menegaskan, musim kemarau bukan sekadar fenomena alam, tetapi juga menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat.
“Kunci utamanya adalah kesadaran masyarakat. Mulai dari menjaga kebersihan air, melindungi saluran pernapasan, hingga memastikan tubuh tetap terhidrasi dengan baik. Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati,” tandasnya. (yn/fm)
Editor : Farid Mahliyannor