Jemaat Padati Ibadah Jumat Agung, Hayati Makna Pengorbanan Kristus

Rado. • Dipublikasikan Jumat, 3 April 2026 | 13:05 WIB
Dalam suasana khidmat, jemaat menghayati makna pengorbanan Yesus Kristus sebagai bagian dari rangkaian perayaan Paskah, mulai dari Kamis Putih hingga puncaknya pada Minggu kebangkitan.
Dalam suasana khidmat, jemaat menghayati makna pengorbanan Yesus Kristus sebagai bagian dari rangkaian perayaan Paskah, mulai dari Kamis Putih hingga puncaknya pada Minggu kebangkitan.

 
SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Ibadah Jumat Agung di Jemaat Luwuk Bunter, dipadati umat hingga melampaui kapasitas gereja. Dalam suasana khidmat, jemaat menghayati makna pengorbanan Yesus Kristus sebagai bagian dari rangkaian perayaan Paskah, mulai dari Kamis Putih hingga puncaknya pada Minggu kebangkitan.

Rangkaian ini menggambarkan perjalanan iman umat Kristen, mulai dari perjamuan terakhir Yesus bersama murid-murid-Nya pada Kamis Putih, pengorbanan dan penyaliban pada Jumat Agung, hingga kemenangan atas maut melalui kebangkitan pada hari Paskah.

Pelaksanaan ibadah berlangsung tertib dengan pengawalan dari petugas kepolisian Cempaga yang turut mengatur arus lalu lintas di sekitar lokasi gereja. Kehadiran aparat ini membantu memastikan kelancaran kegiatan di tengah tingginya jumlah jemaat yang hadir.

Antusiasme umat terlihat dari membludaknya kehadiran jemaat hingga melebihi kapasitas gedung gereja. Sejumlah jemaat bahkan harus mengikuti ibadah dari luar ruangan, sehingga panitia menambah kursi di area luar gereja agar seluruh umat tetap dapat mengikuti rangkaian ibadah dengan khidmat.

Dalam khotbahnya, Pendeta Esteriadi mengajak jemaat untuk tidak hanya memahami peristiwa tersebut sebagai sejarah iman, tetapi juga sebagai refleksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyoroti bahwa pengalaman ketidakadilan yang dialami Yesus masih sangat relevan dengan kondisi manusia saat ini.

“Dalam kehidupan kita, sering kali kita melihat orang yang hidup benar, penuh kasih, justru mengalami perlakuan yang tidak adil. Itu bukan hal baru, karena Yesus sendiri telah mengalaminya,” ujarnya di hadapan jemaat.

Menurutnya, realitas tersebut kerap mengguncang iman manusia, terutama ketika dihadapkan pada kehilangan orang yang dikasihi. Namun ia menegaskan, dalam perspektif iman Kristen, kematian bukanlah akhir dari segalanya.

“Ketika kita kehilangan orang yang kita kasihi, secara manusia kita merasakan duka yang dalam. Tetapi kita harus ingat, bagi mereka yang percaya, kepergian itu adalah kemenangan, bukan kekalahan,” jelasnya.

Melalui momentum Jumat Agung, jemaat diajak untuk melakukan introspeksi diri, melihat kembali perjalanan hidup, serta memperbarui komitmen iman.

Pengorbanan Yesus, lanjutnya, bukan sekadar simbol, melainkan teladan nyata tentang kasih, ketaatan, dan pengorbanan total bagi keselamatan umat manusia.

Pendeta Esteriadi juga menekankan bahwa kehidupan adalah sebuah perjuangan iman yang tidak selalu mudah, namun harus dijalani dengan kesetiaan.

“Yesus sudah memberikan teladan pengorbanan yang luar biasa untuk menyelamatkan kita. Karena itu, kita juga dipanggil untuk memikul salib kita masing-masing, menjalani hidup dengan setia, sekalipun dalam kesulitan,” tegasnya.

Ia menambahkan, rangkaian ibadah lseharusnya tidak hanya dimaknai secara seremonial, tetapi menjadi proses spiritual yang utuh dari perenungan, pengorbanan, hingga pembaruan hidup.

“Jumat Agung mengingatkan kita akan pengorbanan, dan Paskah membawa harapan baru melalui kebangkitan. Ini adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan,” ungkapnya.

Menutup khotbahnya, Esteriadi mengajak jemaat menjadikan momen ini sebagai titik balik dalam kehidupan iman, dengan membawa diri lebih dekat kepada Tuhan serta tetap teguh dalam menghadapi setiap pergumulan hidup.

“Melalui ibadah ini, mari kita belajar setia, memikul salib kehidupan kita, dan tetap percaya bahwa pada akhirnya ada kemenangan bersama Kristus,” tutupnya.(ang)

Editor : Slamet Harmoko
Jumat Agung Kristus paskah