Pengetahuan yang didapatkan tidak hanya memberikan manfaat bagi anak didik, lebih dari itu para guru yang mendampingi merasakan hal yang sama.
Perjalanan jauh kurang lebih tiga jam tak memengaruhi peserta kunjungan edukasi dari SDS Tunas Agro.
Bertolak sekolah di Desa Cempaka Putih, Kecamatan Tualan Hulu, rombongan yang terdiri dari 18 murid dan 10 guru pendamping berangkat menggunakan satu unit bus.
Cuaca terik siang itu, tak memengaruhi sekitar 18 murid SDS Tunas Agro yang turun dari dalam mobil. Dengan cekatan mereka langsung membentuk barisan, setelah sebelumnya diberikan arahan guru pembimbing.
“Selamat datang adik-adik dari SDS Tunas Agro di Kantor Radar Sampit. Terimakasih atas kunjungannya kali ini, semoga nanti apa yang dijelaskan memberikan banyak pengetahuan,” ucap Tono, Dewan Redaksi Radar Sampit saat menerima rombongan SDS Tunas Agro.
Kepala SDS Tunas Agro Nur Ali mengaku ini merupakan kunjungan kedua ke Radar Sampit, setelah sebelumnya berkunjung di tahun 2024.
Pemilihan perusahaan media massa ini sebagai bagian untuk mengenalkan anak didik terkait bagaimana pembuatan koran itu sendiri.
Dan yang lebih penting memberikan pemahaman kepada siswa terkait bermedia sosial dengan bijak.
“Teknologi terus berkembang dan akses informasi mudah didapatkan. Makannya anak-anak kita bawa kesini biar bisa bijak dalam bermedia sosial,”ucap Nur Ali.
Dalam kunjungan ini, para siswa diajak ke dapur redaksi. Mereka juga diperkenalkan dengan peralatan yang digunakan wartawan untuk membuat berita dan juga peralatan layout untuk membuat desain koran.
Sebagai koran lokal di daerah, Tono menjelaskan Radar Sampit memiliki prestasi tingkat nasional.
Diantaranya koran terbaik regional Kalimantan, dalam ajang Indonesian Media Print Award (IPMA) yang diselenggarakan Serikat Perusahaan Pers (SPS).
Dalam kunjungan edukasi ini, siswa SDS Tunas Agro tampak antusias mendengarkan penjelasan dari Radar Sampit.
Pertama mereka diajak ke ruang redaksi untuk mengetahui cara pengolahan informasi menjadi sebuah berita yang bisa dipertanggungjawabkan.
Kemudian juga dijelaskan cara pembuatan desain halaman koran.
Selanjutnya siswa diajak ke ruang percetakan untuk mengetahui proses pembuatan koran. Di sana mereka juga melihat secara langsung peralatan apa saja yang digunakan.
“Dalam sehari berapa banyak kertas yang diperlukan untuk memproduksi koran sebanyak ini?” tanya seorang siswa.
Nur Ali menambahkan kegiatan seperti ini akan terus dilanjutkan karena memiliki manfaat besar tidak hanya bagi siswa tapi juga guru pendamping.
“Kita rencanakan kunjungan edukasi ini bisa dilakukan di tahun-tahun mendatang,” ucapnya. (ton/soc)
Editor : Slamet Harmoko