SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kajian mengenai pengolahan limbah kelapa sawit yang dilakukan oleh tim peneliti SMA Muhammadiyah Sampit dinilai memiliki nilai strategis, baik untuk mendukung sektor pertanian maupun sebagai alternatif solusi atas persoalan sampah yang semakin meningkat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Perwakilan peneliti dari SMA Muhammadiyah Sampit, Dr. Joni, menyampaikan bahwa penelitian yang dilaksanakan di kawasan PT Sampit International tersebut selaras dengan program pemerintah daerah, terutama dalam upaya pengelolaan sampah dan penguatan ketahanan pangan.
Ia menjelaskan, limbah sawit seperti tandan kosong seharusnya tidak dibiarkan menumpuk tanpa pengolahan. Pasalnya, proses pembusukan limbah tersebut berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.
“Jika tandan kosong sawit dibiarkan menumpuk, pembusukannya akan menghasilkan gas amonia dan karbon dioksida yang berbahaya, serta berkontribusi terhadap pemanasan global dan kerusakan lapisan ozon,” ujar Joni kepada Radar Sampit, Jumat (23/1).
Selain berkontribusi pada pelestarian lingkungan, penelitian ini juga diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan dengan mengolah limbah sawit menjadi pupuk organik yang dapat dimanfaatkan oleh petani.
“Harapannya, ini bisa mendorong kemandirian pertanian lokal. Saat ini penelitian masih dalam tahap pengembangan dan belum masuk ke uji coba lapangan,” katanya.
Menurut Joni, kegiatan penelitian semacam ini seharusnya memperoleh dukungan karena turut membantu pemerintah daerah dalam menangani persoalan sampah yang volumenya terus bertambah.
“Kami menawarkan solusi konkret. Sampah di Kotim sudah menumpuk di TPA, ditambah limbah sawit yang jika tidak dikelola dengan baik justru membahayakan lingkungan,” ucapnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebelum penelitian dimulai, pihak SMA Muhammadiyah Sampit telah menyampaikan pemberitahuan resmi kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim pada 15 Desember 2025. Karena bersifat akademik dan tidak berorientasi komersial, kegiatan tersebut dinilai tidak memerlukan perizinan seperti kegiatan usaha.
Namun demikian, aktivitas penelitian ini sempat terhenti setelah DLH Kotim bersama DPRD setempat melakukan inspeksi mendadak ke lokasi penelitian di area PT Sampit International.
Joni menyayangkan langkah tersebut dan menilai bahwa kegiatan ilmiah seharusnya tetap dijaga independensinya sesuai prinsip akademik, apalagi tujuan penelitian ini untuk membantu petani dan pemerintah daerah.
“Kami mempertanyakan alasan sidak yang dilakukan sebulan kemudian. Apa relevansinya? Ranah ilmiah jangan sampai tercampur dengan kepentingan lain,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa penelitian ini juga dilatarbelakangi keprihatinan terhadap kondisi sosial masyarakat sekitar, khususnya mantan karyawan PT Sampit International yang kehilangan pekerjaan sejak pabrik tidak lagi beroperasi.
“Dengan memanfaatkan lokasi tersebut, kami bisa melibatkan sekitar 10 hingga 12 mantan karyawan dalam kegiatan penelitian,” jelas Joni.
Ia menambahkan, dampak dari sidak tersebut adalah terhentinya suplai limbah sawit untuk keperluan riset. Perusahaan yang sebelumnya bersedia menyediakan limbah akhirnya memilih menghentikan kerja sama.
“Padahal limbah itu tidak untuk diperjualbelikan, hanya dipakai sebagai bahan penelitian. Akibatnya, kegiatan riset ini pun terpaksa dihentikan,” ujarnya.
Terhentinya penelitian ini, kata Joni, berdampak pada pembangunan lahan konservasi gambut tahap II. Pembangunan lahan konservasi dihentikan karena tidak mendapatkan pasokan pupuk dari limbah sawit. ”Sebagaimana yang dilakukan dalam pembangunan lahan konservasi gambut di Jalan HM Arsyad Km 7 Sampit-Samuda,” ujarnya. (yit)
Editor : Heru Prayitno