SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Sampit Expo 2026 tidak hanya menjadi ajang pameran semata. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi sarana penilaian bagi stan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), instansi, dan pihak swasta, terutama dalam hal penyajian program dan pelayanan kepada masyarakat.
Koordinator Juri Sampit Expo 2026, Pariyanto Marman, mengatakan bahwa penilaian dilakukan berdasarkan tiga indikator utama.
Aspek estetika memiliki bobot 30 persen, yang mencakup keindahan dan dekorasi stan, kerapian, kebersihan, tata letak, serta kreativitas desain.
Indikator kedua adalah kesesuaian dengan bobot 20 persen, meliputi kecocokan konten dengan tugas dan fungsi instansi, orisinalitas, serta kelengkapan buku tamu.
“Sementara indikator penyajian memiliki bobot paling besar, yakni 50 persen. Ini meliputi cara penyampaian informasi, sikap petugas, kemampuan komunikasi, serta interaksi dengan pengunjung,” jelas Pariyanto, Sabtu (10/1/2026).
Ia menambahkan, proses penilaian dilakukan sebanyak tiga kali sejak hari pertama pelaksanaan Sampit Expo pada 7 Januari 2026.
Satu kali penilaian dilakukan secara terbuka melalui wawancara langsung, sedangkan dua penilaian lainnya dilakukan secara tertutup tanpa pemberitahuan kepada peserta.
“Yang dinilai bukan hanya tampilan stan, tetapi bagaimana mereka menyampaikan dan menjual program kepada pengunjung. Justru di situlah nilai tertingginya,” tegasnya.
Dewan juri lomba stan Sampit Expo 2026 terdiri dari tiga jurnalis, yakni Pariyanto Marman dari Borneonews.co.id, Norjani Asheran dari LKBN Antara, serta Heny dari Radar Sampit. Penilaian difokuskan pada stan OPD, instansi, dan swasta, sementara stan UMKM tidak masuk dalam kategori lomba.
Salah satu juri, Norjani Asheran, menjelaskan bahwa juri memposisikan diri sebagai pengunjung. Oleh karena itu, kehadiran dan kesiapan petugas stan saat dikunjungi menjadi bagian penting dalam penilaian.
“Jika kami datang dan stan dalam keadaan tutup atau tidak dijaga, itu tidak otomatis menggugurkan nilai, tetapi tetap akan berpengaruh terhadap nilai akhirnya,” ujarnya.
Norjani yang telah dua tahun berturut-turut menjadi juri Sampit Expo menilai, pelaksanaan tahun ini menunjukkan kemajuan dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika sebelumnya lebih banyak menonjolkan produk UMKM, kini peserta mulai menampilkan program dan layanan instansi sesuai bidangnya, tanpa mengesampingkan peran UMKM sebagai pendukung.
“Expo seharusnya bukan seperti museum, tempat orang hanya melihat. Di sini yang dinilai adalah bagaimana peserta aktif menyampaikan program dan berinteraksi dengan pengunjung,” pungkasnya. (oes)
Editor : Slamet Harmoko