SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Minat masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terhadap pelatihan kerja berbasis keterampilan praktis semakin tinggi.
Balai Latihan Kerja (BLK) Kotim mencatat, pelatihan kejuruan las menjadi program paling diminati peserta tahun ini.
Kepala UPTD BLK Kotim Idris Sugiono mengungkapkan bahwa tren ini cukup mengejutkan. Pasalnya, pelatihan las sebelumnya termasuk yang sulit mendapatkan peserta.
Namun kini, justru menjadi yang paling diminati di antara berbagai kejuruan lain.
“Tahun ini trennya las. Dulu-dulu susah cari peserta, sekarang malah paling dicari,” ujar Idris.
Menurut Idris, meningkatnya minat terhadap pelatihan las sejalan dengan tingginya kebutuhan tenaga kerja di sektor industri dan konstruksi.
Selain keterampilan teknis, pelatihan tersebut juga membuka peluang kerja luas bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
“Pelatihan bukan hanya menambah keterampilan, tapi juga membuka jalan ke dunia kerja. Karena itu, kami selalu tekankan agar peserta tetap aktif dan menjalin komunikasi dengan BLK,” tegasnya.
Selain kejuruan las, BLK Kotim juga telah mengusulkan lima jenis pelatihan lain yang akan segera dilaksanakan.
Di antaranya, kejuruan garmen, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), teknik listrik, pariwisata, dan teknik elektronika. Seluruh program tersebut akan dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Namun, pelaksanaannya sempat tertunda akibat kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat. Idris menjelaskan, kegiatan baru dapat diusulkan kembali setelah pembukaan blokir anggaran pada akhir September lalu.
“Awalnya kami sudah siap mulai sejak Ramadan, tapi ada surat dari Balai Besar Bekasi yang menyatakan semua kegiatan di-hold dulu. Baru akhir September kemarin blokir anggaran dibuka, dan kami diminta segera mengusulkan kembali program pelatihan,” jelasnya.
Meski menghadapi penundaan, BLK Kotim tetap aktif melaksanakan berbagai kerja sama pelatihan dengan sejumlah lembaga.
Beberapa di antaranya pelatihan perawatan AC di Lapas, pelatihan las di Bapas, serta program singkat berdurasi 10 hari melalui GAPGI Tenaga Kerja (GAPGI TK).
“Peserta program singkat juga tetap kami fasilitasi dengan perlengkapan dan uang saku. Intinya, meski sempat tertunda, kegiatan pelatihan tidak berhenti sepenuhnya,” imbuhnya.
Idris menambahkan, pihaknya kini tengah menunggu petunjuk teknis dari pemerintah pusat untuk memulai kembali pelatihan reguler di kuartal akhir tahun ini.
“Mudah-mudahan segera turun agar kami bisa jalankan sebelum akhir tahun anggaran,” harapnya. (yn/fm)
Editor : Farid Mahliyannor