SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Pekerjaan pembangunan jembatan Sei Lenggana di Jalan Jenderal Sudirman kilometer 21, Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim) terus berlanjut.
Selama proses tersebut, kendaraan dialihkan melewati jembatan darurat yang dibangun di samping jembatan utama. Namun, mengingat jembatan darurat tersebut rawan rusak, Dinas Perhubungan (Dishub) Kotim meminta truk yang melintas untuk membatasi tonase.
Meski berfungsi sebagai penopang arus kendaraan, jembatan darurat ini beberapa kali mengalami kerusakan sehingga menimbulkan antrean panjang di jalur Trans Kalimantan poros selatan yang menghubungkan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dengan Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Kotim Raihansyah menyebutkan kondisi tanah gambut di sekitar sungai membuat jembatan darurat cukup rentan.
“Tanahnya labil, sementara lantai jembatan hanya bersifat sementara sehingga tidak bisa menahan beban berlebih,” jelasnya.
Untuk mengurangi risiko kerusakan, Dishub bersama Satlantas Polres Kotim mengingatkan perusahaan angkutan agar menyesuaikan muatan truk saat melintas.
“Tonase harus diperhitungkan. Kalau tidak, jembatan bisa rusak dan dampaknya bukan hanya macet, tapi juga berbahaya bagi pengendara,” tambahnya.
Jika terjadi kemacetan total, arus lalu lintas dialihkan ke jalan alternatif milik perusahaan perkebunan sawit. Jalan itu masuk dari kilometer 18 arah Sampit dan keluar di kilometer 29 arah Pangkalan Bun.
Namun, jalur alternatif hanya dibuka dalam kondisi darurat karena berada di kawasan perkebunan yang rawan kebakaran.
Menurut Raihansyah, pihak kontraktor juga sudah diminta memperkuat struktur jembatan darurat agar lebih aman digunakan hingga jembatan permanen selesai dibangun.
“Sekarang sudah bisa dilewati kembali. Harapan kami, semua pihak bisa menjaga dengan cara tidak membawa muatan berlebih,” ujarnya.
Pembangunan Jembatan Sei Lenggana sendiri sangat vital karena menjadi akses utama logistik dan transportasi masyarakat. “Pemerintah berharap proses ini berjalan lancar tanpa hambatan berarti, sehingga jalur utama Trans Kalimantan bisa kembali normal,” harapnya. (yn/fm)
Editor : Farid Mahliyannor