Cuaca cerah pagi itu seolah ikut mendukung jalannya peringatan bersejarah yang digelar dengan khidmat dan penuh warna.
Kepala KSOP Kelas III Sampit Hotman Siagian tampil sebagai inspektur upacara dengan balutan busana adat Dayak.
Pakaian merah yang dikenakannya lengkap dengan laung dan kalung taring khas etnik Dayak, menjadi simbol penghormatan terhadap kearifan lokal Kalimantan.
Tak kalah menarik, para pegawai KSOP juga mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah. Ada yang tampil dengan busana khas Jawa, Sumatera, Bali, Betawi, hingga Sulawesi. Sementara itu, kebaya nasional mendominasi pakaian para pegawai wanita, menampilkan keindahan ragam budaya Indonesia dalam satu barisan yang rapi.
“Ini sesuai arahan pimpinan Kementerian Perhubungan agar setiap insan perhubungan mengenakan pakaian adat dalam upacara kemerdekaan. Selain menumbuhkan semangat nasionalisme, juga sebagai wujud cinta terhadap budaya bangsa,” ujar Hotman Siagian usai upacara.
Dengan mengusung tema “Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”, kata Hotman, peringatan hari kemerdekaan kali ini diharapkan mampu membangkitkan semangat kebersamaan.
“Kita semua sebagai warga negara wajib memperingati hari bersejarah ini. Harapan kami, Indonesia benar-benar maju di tahun 2045 sesuai visi besar bangsa,” tambahnya.
Upacara berlangsung dengan tertib. Momen paling sakral terjadi saat tiga pegawai KSOP mengibarkan Sang Merah Putih dengan gagah diiringi lantunan lagu Indonesia Raya.
Peserta upacara berdiri tegak penuh hormat, sementara kibaran bendera tampak megah berlatar langit biru tanpa mendung.
Selain diikuti jajaran internal KSOP, upacara juga dihadiri pimpinan asosiasi, PT Pelindo, perwakilan Tersus, TUKS, serta sejumlah perusahaan maritim yang beroperasi di Pelabuhan Sampit.
Baca Juga: Inilah Penyebab Gempa Poso, Cek Hasil Analisis Geologinya
Kehadiran mereka menunjukkan komitmen bersama insan maritim untuk terus mendukung pembangunan nasional, terutama melalui sektor pelabuhan yang menjadi pintu gerbang perekonomian daerah.
Sejumlah peserta mengaku terkesan dengan konsep upacara kali ini. Nuansa pakaian adat dinilai memberikan pengalaman berbeda sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap kekayaan budaya bangsa.
“Kami merasa lebih semangat dan merasakan kebersamaan sebagai bagian dari Indonesia yang majemuk,” ungkap Wahyu salah satu pegawai. (yn)
Editor : Slamet Harmoko