Tradisi Unik di Indonesia Saat Bulan Safar, Termasuk Mandi Safar di Kotim

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Jumat, 8 Agustus 2025 | 15:40 WIB
Mandui Safar atau Mandi Safar di Sungai Mentaya beberapa tahun lalu, kini tradisi ini mulai ditinggalkan. (Dok. Oes untuk Radar Sampit)
Mandui Safar atau Mandi Safar di Sungai Mentaya beberapa tahun lalu, kini tradisi ini mulai ditinggalkan. (Dok. Oes untuk Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Bulan Safar, bulan kedua dalam penanggalan Hijriah, tahun ini berlangsung pada 26 Juli hingga 23 Agustus 2025.

Di berbagai daerah di Indonesia, bulan ini kerap diwarnai tradisi dan kegiatan khusus yang diwariskan secara turun-temurun, termasuk di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, yang memiliki tradisi Mandi Safar.

Tradisi Mandi Safar di Kotim biasanya dilakukan masyarakat pesisir, khususnya di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu terakhir di bulan Safar. Warga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, beramai-ramai mandi di pantai atau sungai.

Tujuannya dipercaya untuk membersihkan diri dari kesialan, menolak bala, dan memohon keselamatan kepada Allah SWT.

Tidak hanya di Kotim, tradisi bulan Safar juga beragam di daerah lain di Indonesia:

Nguras Sendang di Klaten, Jawa Tengah

Warga Desa Jatinom menguras sendang (mata air) yang dianggap keramat. Airnya digunakan untuk mandi atau dibawa pulang sebagai simbol keberkahan.


Rebo Wekasan di Banten dan Lampung

Pada Rabu terakhir bulan Safar, masyarakat menggelar doa bersama dan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an untuk memohon perlindungan dari marabahaya.


Pekanan Safar di Aceh

Di beberapa daerah Aceh, bulan Safar diisi dengan kenduri besar di meunasah (surau) yang menghadirkan seluruh warga. Kenduri ini sebagai bentuk rasa syukur dan memohon keberkahan.


Mandi Safar di Riau dan Kepulauan Riau

Sama seperti di Kotim, masyarakat pesisir Riau juga menggelar mandi bersama di laut atau sungai. Tradisi ini kerap menjadi daya tarik wisata budaya.

Meski sebagian masyarakat masih memandang bulan Safar sebagai bulan yang penuh ujian, para ulama menegaskan bahwa bulan ini sama seperti bulan lainnya dalam Islam.

Tradisi yang dilakukan lebih dimaknai sebagai warisan budaya dan ajang silaturahmi, selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Bulan Safar 1447 H tahun ini menjadi momen bagi masyarakat untuk menjaga tradisi sekaligus mempererat persaudaraan, sembari mengingatkan bahwa keselamatan sejati hanya datang dari Allah SWT. (*)

Editor : Slamet Harmoko
mandi safar bulan Safar sampit kotim