SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Panji Petualang, tokoh yang dikenal lewat aksi pelestarian satwa liar, menjenguk langsung Nursehan, nenek yang menjadi korban serangan buaya di Sungai Mentaya, Desa Bagendang Permai, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah.
Kehadiran Panji bukan sekadar bentuk simpati. Ia juga mengajak publik untuk membuka mata terhadap potensi bahaya yang mengintai di sungai-sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir.
“Hari ini saya menjenguk langsung Ibu Nursehan, korban serangan buaya di Sungai Mentaya, Kotim,” ujar Panji, di Rumah Sakit Umum Daerah dr Murjani Sampit, Selasa (22/7/2025).
Panji menyoroti data mengkhawatirkan yang dirilis oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah.
Sejak tahun 2010 hingga Juli 2025, telah terjadi 54 kasus serangan buaya di wilayah ini. Kebanyakan insiden terjadi di kawasan bantaran sungai yang padat aktivitas manusia.
“Sungai yang dulunya jadi tempat kehidupan, kini menyimpan bahaya yang nyata,” kata Panji.
Ia menegaskan, persoalan ini bukan soal menyalahkan buaya, melainkan tentang memahami dan mengelola ruang hidup antara manusia dan satwa liar.
“Buaya hanya mempertahankan wilayah hidupnya. Yang harus kita lakukan adalah memahami cara hidup mereka dan mencegah konflik lebih lanjut,” jelasnya.
Panji juga mengingatkan pentingnya edukasi kepada warga dan upaya konkret dari pemerintah serta semua pihak untuk meminimalkan risiko.
Bagikan Mitigasi Sederhana Mencegah Serangan Buaya
Ia pun membagikan beberapa langkah mitigasi sederhana namun krusial:
- Hindari sungai saat subuh dan malam
- Jangan membuang limbah atau bangkai ke sungai
- Perlu ada edukasi dan peringatan terus-menerus untuk masyarakat sekitar
- Pemetaan titik rawan dan patroli terpadu harus segera dilakukan
Kunjungan Panji disambut hangat oleh keluarga korban dan warga setempat.
Ia berharap pesan ini bisa menjadi pengingat bahwa keselamatan manusia dan pelestarian satwa bisa berjalan beriringan, asalkan ada pemahaman, empati, dan aksi nyata. (*)
Editor : Slamet Harmoko