Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Ternyata Dua Kecamatan Ini Jadi Penyumbang Sampah Terbesar di Kotim

Yuni Pratiwi Iskandar • Kamis, 5 Juni 2025 | 13:05 WIB
LINGKUNGAN HIDUP: Dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada 5 Juni, DLH Kotim motori giat kerja bakti lingkungan, Kamis (5/6).YUNI/RADAR SAMPIT
LINGKUNGAN HIDUP: Dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada 5 Juni, DLH Kotim motori giat kerja bakti lingkungan, Kamis (5/6).YUNI/RADAR SAMPIT


SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Lonjakan produksi sampah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memaksa Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat mengubah strategi pengelolaan limbah.

Dengan rata-rata 0,54 kilogram sampah yang dihasilkan setiap orang per hari, akumulasi limbah rumah tangga kini menjadi beban serius bagi keberlanjutan lingkungan.

Kepala DLH Kotim Marjuki, menyebutkan bahwa total timbunan sampah harian kini mencapai 240 ton.

Dua kecamatan terbesar, Baamang dan Mentawa Baru Ketapang, menyumbang lebih dari separuhnya, yakni sekitar 130 ton per hari.

"Kalau melihat jumlah penduduk kita, angka itu cukup signifikan. Apalagi dengan keterbatasan armada dan tenaga operasional yang kami miliki, tidak mungkin seluruh sampah bisa diangkut ke TPA," ujar Marjuki, Kamis (5/6).

Menjawab tantangan tersebut, DLH Kotim mulai menerapkan kebijakan baru, yakni hanya 10 persen dari total sampah yang akan dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Selebihnya, harus dipilah dan dikelola langsung di tingkat sumber, seperti rumah tangga dan pelaku usaha.

Langkah ini menandai pergeseran dari sistem konvensional yang bergantung pada pengangkutan dan pembuangan, menuju sistem berbasis pengurangan dan pemanfaatan ulang.

Sampah organik seperti sisa makanan dan daun akan diolah secara lokal, sementara sampah anorganik diarahkan untuk didaur ulang melalui kerja sama dengan bank sampah dan pemulung.

"Ke depan, tidak ada lagi plastik, daun, atau kertas yang masuk ke TPA. Semua harus sudah terpisah dari hulu," tegas Marjuki.

Salah satu lokasi uji coba sistem ini adalah Tempat Penampungan Sementara (TPS) di Jalan Kopi. Dalam sepekan terakhir, proses pemilahan sudah mulai diterapkan secara bertahap.

DLH menargetkan sistem serupa dapat diperluas ke titik-titik lain secara menyeluruh.

Lebih dari sekadar perubahan teknis, Marjuki menekankan bahwa transisi ini membutuhkan dukungan semua pihak, termasuk dari sisi regulasi dan pendanaan.

Ia berharap kebijakan ini dapat menjadikan Sampit sebagai kota percontohan dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.

"Kami berharap anggaran dapat mendukung percepatan penanganan sampah ini. Kota Sampit harus jadi contoh dalam pengelolaan sampah yang ramah lingkungan," pungkasnya. (yn/sla)

Editor : Slamet Harmoko
#kecamatan #sampah #kotim #penyumbang