SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memastikan program makan bergizi gratis (MBG) akan kembali dilanjutkan, meskipun saat ini tengah dihentikan sementara untuk keperluan evaluasi teknis oleh pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional (BGN).
Bupati Kotim Halikinnor menegaskan bahwa penghentian ini bukan karena kendala serius, melainkan bagian dari proses penyempurnaan pelaksanaan program di lapangan.
“Program itu sedang dievaluasi oleh pusat. Saya sempat cek ke lapangan, memang masih ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Misalnya, ada pisang yang matang, ada juga yang tidak. Produksi lokal kita belum maksimal, jadi wajar bila ada evaluasi,” ujar Halikinnor, Selasa (3/6).
Dalam pelaksanaan program nasional berskala besar seperti MBG, evaluasi berkala adalah hal yang wajar. Polanya memang dijalankan terlebih dahulu, lalu dikaji untuk melihat titik-titik lemah yang perlu diperbaiki.
“Ini bukan karena masalah besar. BGN sebagai pelaksana program sedang berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Yang jelas, nanti program ini pasti berjalan lagi di Kotim,” tegasnya.
Halikinnor menyatakan bahwa Pemkab Kotim siap mendukung kelanjutan program MBG jika sudah dinyatakan siap kembali oleh pusat.
“Ini bagian dari upaya bersama untuk menciptakan generasi yang sehat sejak dini. Kami tentu siap jika program ini kembali diluncurkan,” tandasnya.
Sejak dimulai pada 24 Februari 2025, program MBG telah menyasar 19 sekolah di Kota Sampit. Terakhir, makanan didistribusikan pada 14 Mei 2025. Setelah itu, pihak sekolah hanya menerima pemberitahuan via grup WhatsApp bahwa program dihentikan sementara, tanpa penjelasan kapan akan dimulai kembali.
Kepala Sekolah TK Pembina Ida Yusiana mengaku belum mendapat informasi resmi terkait kelanjutan program di sekolahnya. Meski menyambut baik program ini, dia berharap ada perbaikan dalam hal penyajian makanan.
“Semoga saja ada kejelasan lebih lanjut. Kalau memang program ini berlangsung lima tahun sesuai MoU, kami berharap menu makanannya disesuaikan dengan selera anak-anak TK,” katanya.
Ida mengakui bahwa selama ini MBG berjalan cukup baik, namun beberapa menu kurang cocok dengan lidah anak usia dini.
“Standar gizinya mungkin sudah terpenuhi, tapi tidak semua makanan disukai anak-anak. Harus ada pendekatan yang lebih ramah anak,” imbuhnya.
Keresahan serupa datang dari jenjang SMP. Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Sampit, M Akbar Rudinur, menyayangkan penghentian program tanpa penjelasan yang memadai.
“Program ini sangat membantu, apalagi banyak siswa kami yang tidak membawa uang jajan. Mereka sangat antusias menerima makanan gratis ini. Kami berharap program bisa segera dilanjutkan,” ujarnya.
Di balik jeda sementara ini, harapan agar MBG kembali berjalan tetap hidup di kalangan sekolah. Evaluasi teknis yang dilakukan pusat menjadi momen penting untuk memastikan bahwa ke depan, kualitas distribusi makanan semakin baik, tepat guna, dan sesuai dengan karakteristik tiap jenjang pendidikan. (yn/yit)
Editor : Heru Prayitno