Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Murni Tanpa Campuran, Terasi Udang Khas Kuala Pembuang Kian Diminati

M. Rifani Dewantara • Senin, 17 Februari 2025 | 12:05 WIB
TERASI: Rusdawati atau yang akrab disapa Ida menunjukkan pembuatan acan (terasi) udang.
TERASI: Rusdawati atau yang akrab disapa Ida menunjukkan pembuatan acan (terasi) udang.

KUALA PEMBUANG, radarsampit.jawapos.com - Di balik dapur sederhana di Jalan Ais Nasution, Kuala Pembuang, seorang wanita paruh baya dengan sabar menumbuk udang rebon segar.

Rusdawati, atau yang akrab disapa Ida, telah mengabdikan dirinya pada proses pembuatan Acan (Terasi) udang khas yang kini semakin dicari hingga beberapa kota.

Dulu, Ida menjalankan usaha kerupuk. Namun, seiring bertambahnya usia, tenaga dan kecepatan tangannya mulai terbatas. Keputusan untuk beralih ke produksi terasi justru membuka jalan rezeki baru.

Dengan metode tradisional yang dijalankannya selama dua tahun terakhir, Acan Acil Ida kini menjadi salah satu produk unggulan kuliner lokal.

Membuat Acan bukan pekerjaan mudah. Ida menumbuk udang sebanyak dua kali sebelum menjemurnya di bawah terik matahari.

Setelah itu, adonan udang didiamkan selama beberapa hari untuk menghasilkan aroma dan rasa khas yang begitu dicari pelanggan.

“Proses yang paling rumit dan melelahkan adalah saat menumbuk udang,” kata Ida sambil tersenyum saat ditemui di kediamannya.

Tak seperti terasi lain yang dicampur dengan pisang atau labu, Acan Ida dibuat murni dari udang rebon dengan sedikit air garam.

Inilah yang membuatnya begitu istimewa. Ditambah dengan daya tahan yang mencapai satu tahun, produk ini menjadi oleh-oleh favorit bagi wisatawan maupun buah tangan bagi keluarga dan kerabat.

Perjalanan Ida dalam mempertahankan produksi Acan tradisionalnya tidak selalu mulus. Ia sempat mendapat keluhan dari tetangga akibat bau yang ditimbulkan saat proses penjemuran.

Namun, dengan keyakinan bahwa produknya dapat mengharumkan kuliner Kuala Pembuang, ia terus melangkah.

“Awalnya saya hanya menitipkan ke pasar dan warung-warung. Berkat promosi dari mulut ke mulut, jualan Acan ini semakin dikenal luas,” ujarnya.

Kini, Ida bisa menerima pesanan hingga 80 kap, bahkan 50 kapdi antaranya rutin dikirim ke Palangka Raya dan daerah hulu Seruyan.

Dengan dibantu dua orang pekerja, proses pembuatan acan bisa diselesaikan dalam waktu sekitar empat hari.

Bagi Ida, acan bukan sekadar bisnis rumahan. Ini adalah warisan rasa yang harus dijaga agar generasi mendatang tetap bisa menikmati kelezatan asli dari Kuala Pembuang.

“Kunci utamanya adalah kesabaran dan ketekunan,” ungkapnya.

Dengan dedikasi dan kecintaannya pada tradisi lokal, Ida telah membuktikan bahwa usaha sederhana pun bisa berkembang dan menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.

Acan Acil Ida kini bukan hanya produk, tetapi juga simbol ketekunan, warisan kuliner, dan kebanggaan daerah Bumi Gawi Hatantiring. (rdw/yit)

 

Editor : Slamet Harmoko
#terasi rusdawati #terasi khas kuala pembuang #terasi #Kuala Pembuang #terasi seruyan