NANGA BULIK, Radarsampit.jawapos.com - Warga Lamandau, Kalimantan Tengah (Kalteng) mengeluhkan harga pasir mendadak mahal. Bahan utama pembangunan ini naik 100 persen.
"Baru tiga hari yang lalu beli pasir satu rit Rp 450 ribu, hari ini (kemarin) saya tanya naik menjadi Rp 900 ribu," ujar Bony, warga Desa Kujan, Nanga Bulik, Lamandau.
Ia mengaku tidak mengetahui apa penyebab kenaikan harga pasir yang sangat jauh ini. Pastinya, akan menghambat proses pembangunan daerah, karena harga yang begitu mencekik membuat warga menunda proses pembangunan rumah dan lainnya.
"Saya rencana mau mengecor kolam ikan. Karena harga pasir mendadak naik, saya tunda dulu lah. siapa tau nanti pemerintah ada solusi bisa menurunkan harga untuk kami masyarakat kecil. Janganlah harganya disamakan dengan harga proyek borongan pemerintah," ujarnya.
Setelah ditelusuri, ternyata kenaikan harga pasir ini merupakan dampak setelah keluarnya izin tambang pasir CV. Semesta Abadi Sentosa.
Sehingga muncul kesepakatan dengan para penambang pasir bahwa harga saat ini ditetapkan sebesar Rp 180 ribu/m3. Harga ini muncul dari perhitungan harga pasir dari depo penambangan sebesar Rp 100 ribu/m3, sedangkan selisih harga Rp. 80.000/m3 untuk retribusi daerah dan oprasional perusahaan.
Artinya jika satu rit (truk) pasir diperkirakan berisi 4 m3, maka harga pembelian pasir dari perusahaan tersebut adalah sebesar Rp 720 ribu. Setelah ditambah biaya angkutan, total harga yang harus dibayarkan konsumen adalah sekitar Rp 900 ribu per truk.
Diketahui, selama ini sebagian besar pasir yang digunakan masyarakat maupun proyek pemerintah di Kabupaten Lamandau berasal dari penyedotan pasir di sungai Lamandau yang tidak ber izin.
Karena sulitnya pengurusan izin tersebut, beberapa waktu lalu baru ada satu perusahaan yang telah mengantongi izin resmi dari Pemprov yakni CV. Semesta Abadi Sentosa. (mex/fm)
Editor : Farid Mahliyannor