PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com - Warga di Jalan Jati Raya, Kota Palangka Raya kembali dihebohkan kemunculan seekor ular mematikan jenis King Kobra.
Kemunculan ular sekali patuk bisa membunuh ini diduga lantaran ekosistem makanan terganggu. Dugaan Kobra ini mencari tikus.
Tak ingin ada warga menjadi korban, masyarakat langsung melapor ke Tim Rescue Damkar Kota Palangka Raya.
Selama satu jam pencarian, ular dengan gigitan mematikan itu berhasil ditemukan petugas.
Ular bersembunyi di genteng di atas rumah tanpa penghuni. Keberadaan ular itu membuat panik dan resah warga sekitar.Saat ditangani, ular sempat melawan, namun kesiapan petugas ular berhasil dimasukan ke dalam karung dan dilepasliarkan jauh dari pemukiman warga.
Koordinator Tim Rescue Damkar Kota Palangka Raya Sucipto, mengatakan, ular pertama kali dilihat warga sekitar dan usai ditangkap, ternyata panjang ulat tiga meter lebih dan sangat mematikan.
Beruntung, tidak ada warga sekitar yang menjadi korban dipatuk ular tersebut. ”Ini ular sekali patuk, bisa menghilangkan nyawa jika tidak ditangani secara benar. Untungnya berhasil diamankan,” ucapnya, Jumat (24/01/2025).
Sucipto membeberkan, penangkapan dilakukan Tim Rescue Damkar setelah menindak lanjuti laporan ular King Kobra Kalimantan.
Laporan itu dari warga Jalan Jati, setelah ular terlihat saat membetulkan sampah rumah tangga. Saat itu, juga pemilik rumah melihat ular bergeser ke rumah tetangga yang kosong dan masuk kedalam plafon teras tetangga.
Ular bersembunyi di balik plafon teras. Lantaran warga dan pemilik rumah takut, akhirnya melaporkan ke tim. Sampai di lokasi, tim langsung menanyakan Dimana ular.
Saat ditunjuk ternyata tidak ada, hingga dilakukan pencarian kurang lebih satu jam, sampai team melihat kesalah satu lobang plapond. Dan nampak, kepala ular lumayan besar.
Kemudian, tim melakukan pencarian di atas plafon di bawah atap , akhirnya ular tertangkap di pojokan rangka atap. Dengan penuh kehati-hatian dilengkapi peralatan, ular dapat dievaluasi dengan baik dan selamat.
“Ini menegangkan saat evakuasinya. Namun tetap berhasil ditangani dengan baik,” tegas Sucipto.
Sucipto menjelaskan, patukan King Kobra yang merupakan salah satu ular paling berbisa di dunia, bisa berakibat sangat fatal bagi korban jika tidak segera mendapatkan penanganan medis yang tepat. Patukan, bisa mengakibatkan kerusakan Saraf (Neurotoksik), karena bisa dari King Kobra mengandung neurotoksin yang dapat merusak sistem saraf korban.
Hal ini bisa menyebabkan kelumpuhan otot, termasuk otot pernapasan, yang berpotensi menyebabkan kegagalan pernapasan dan kematian jika tidak segera ditangani.
Lalu, korban mungkin akan merasakan rasa sakit hebat di lokasi patukan, diikuti oleh pembengkakan dan munculnya tanda-tanda kerusakan jaringan lokal. Dalam beberapa menit hingga beberapa jam, gejala lain seperti mual, pusing, penglihatan kabur, dan kesulitan bernapas bisa muncul.
Kemudian, kegagalan pernafasan, sebab salah satu akibat paling berbahaya dari patukan King Cobra adalah kegagalan pernapasan, yang dapat terjadi akibat kerusakan pada saraf yang mengontrol otot pernapasan. Tanpa penanganan yang cepat, korban bisa mengalami kesulitan bernapas atau bahkan mati lemas.
Maka itu, tanpa penanganan medis yang cepat dan efektif, seperti pemberian anti-bisa (antivenom) dan perawatan intensif, bisa dari King Kobra dapat menyebabkan kematian dalam waktu beberapa jam setelah patukan.
“Karena tingkat bahaya yang sangat tinggi, penting bagi orang-orang yang berada di daerah yang memiliki populasi King Kobra untuk selalu berhati-hati dan segera mencari pertolongan medis jika terkena patukan,” imbaunya. (daq/fm)
Editor : Farid Mahliyannor