Hal tersebut sebagaimana diutarakan oleh Bupati Kotim Halikinnor yang diwakili Staf Ahli Bupati Kotim Najmi Fuadi pada acara Peringatan Hari AIDS sedunia ke 33 yang diselenggarakan di lantai 2 Setda Kotim, Rabu (1/12).
Dipaparkannya, hari AIDS sedunia pertama kali diperingati pada tanggal 1 Desember 1988. Setiap tahunnya diperingati untuk meningkatkan kesadaran tentang infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) sebagai penyakit yang menyerang tubuh manusia dalam waktu lama.
"Melihat perkembangan kasus di Kotim dalam kurun waktu dari Januari - Oktober 2021 terdapat 34 kasus yang terdiri 34 kasus HIV dan 19 kasus AIDS," ujarnya.
Dari gambaran kasus tersebut lanjut Najmi, kasus HIV terjadi pada usia produktif 15-49 tahun yakni sekitar 28 orang atau 82,35 persen. Sehingga menurutnya generasi pada usia produktif perlu diberikan pemahaman terkait dengan HIV/AIDS.
"Karena generasi muda yang memegang estapet pembangunan kedepan perlu diberikan pengetahuan HIV secara komprehensif," terangnya.
Peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) ke 33 di Kotim diselenggarakan dengan cara sederhana. Dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Kotim Umar Kaderi, Sekretaris KPAD Asikin Arfan, sejumlah jajaran dari Satuan Organisasi Perangkat Daerah (SOPD) lainnya dan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS).
Peringatan Hari AIDS tahun 2021 mengangkat tema "AKHIRI AIDS" "CEGAH HIV "AKSES UNTUK SEMUA". Acara tersebut juga dirangkai dengan penyerahan bantuan kebutuhan pokok secara simbolis kepada KDS.
Najmi juga menyampaikan, dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS perlu penguatan kolaborasi yang harus dilakukan bersama SOPD, swasta dan seluruh masyarakat. Sehingga upaya pencegahan dan pengendalian HIV AIDS bisa terselesaikan dan target ending HIV AIDS tahun 2030 bisa tercapai.
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kotim Umar Kaderi memaparkan, sejak program HIV/AIDS dan IMS aktif digiatkan di Kotim dari tahun 2011- Oktober 2021 tercatat sudah ada sekitar 514 kasus baru HIV dengan jumlah kasus AIDS sebanyak 184 ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Sasaran yang diperiksa HIV sebagai target skrining adalah semua ibu hamil, pasien TB dan kelompok populasi kunci.
Adapun yang masuk dalam populasi kunci antara lain Wanita Pekerja Seks (WPS), Pria Pekerja Seks (PPS), Lelaki Seks Lelaki (LSL), Waria, Pelanggan, Pasangan Risiko Tinggi, Pengguna Napza dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Pemeriksaan HIV di puskesmas dan Rumah Sakit dilakukan melalui kegiatan Konseling dan Tes HIV (VCT/Voluntary Counseling Test) serta Tes atas Inisiatif Petugas (TIPK). Selain itu pemeriksaan HIV dilakukan juga melalui kegiatan Mobile VCT bekerja sama dengan lintas sektor seperti Satpol PP, PKBI. LP, dan KKP.
"Dari 514 kasus HIV yang ditemukan ternyata hanya 375 ODHA yang pernah mendapat pengobatan ARV (antiretroviral). Sayangnya dari jumlah tersebut sampai Oktober 2021 yang masih aktif pengobatan ARV tinggal 178 ODHA, sebanyak 40 ODHA dirujuk keluar, 91 ODHA masuk kategori gagal follow up dan sebanyak 66 ODHA meninggal dunia," pungkas Umar.
Dirinya pun menyambut baik kegiatan 'Temu Kangen Bersama ODHA' yang diharapkan akan mampu membangkitkan semangat minum ARV bagi ODHA dan mempererat silaturahmi, sehingga tujuan peringatan Hari AIDS Sedunia tercapai.
Tujuan tersebut diantaranya yakni menguatkan kolaborasi terintegrasi antara berbagai pemangku kepentingan dalam melaksanakan pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS dan IMS dan meningkatkan penggerakan sumber daya dalam mengakhiri AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat. (yn/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama