NANGA BULIK, radarsampit.jawapos.com – Anggaran penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Lamandau tersisa sekitar Rp100 juta. Keterbatasan anggaran tersebut menjadi tantangan bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamandau untuk melanjutkan upaya pemadaman di sejumlah wilayah.
Bupati Lamandau Rizky Aditya Putra menyampaikan kondisi tersebut dalam sebuah podcast. Untuk menjaga operasional pemadaman tetap berjalan, Pemkab Lamandau meminta dukungan bahan bakar minyak (BBM) dari perusahaan besar swasta (PBS).
Permintaan bantuan itu sebelumnya dibahas dalam rapat kolaborasi penanganan karhutla yang dipimpin langsung oleh Rizky dan dihadiri perwakilan sejumlah perusahaan. Dalam rapat tersebut, sebanyak 27 perusahaan diminta berpartisipasi membantu kebutuhan BBM untuk operasional armada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pemadam kebakaran (Damkar).
Dari 27 perusahaan yang diharapkan berpartisipasi, sebanyak 11 perusahaan telah merealisasikan bantuan. Masing-masing perusahaan memberikan sekitar 500–600 liter BBM untuk mendukung operasional kendaraan dan peralatan pemadaman.
Kepala Pelaksana BPBD Lamandau Hendikel sebelumnya melaporkan, anggaran dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) BPBD untuk insentif petugas pemadam hanya Rp78,75 juta. Sementara itu, kebutuhan penanganan karhutla selama periode 28 Agustus hingga 24 September diperkirakan mencapai Rp342 juta.
Keterbatasan juga terjadi pada anggaran BBM. Dalam DPA BPBD, dana yang tersedia hanya Rp8,88 juta. Padahal, satu kali kegiatan pemadaman dapat membutuhkan sekitar 260 liter BBM, mulai dari solar, Dexlite hingga Pertalite, bergantung pada jenis armada dan kebutuhan operasional di lapangan.
Sebelumnya, kebutuhan tambahan anggaran operasional penanganan karhutla diperkirakan mencapai Rp908,67 juta. Namun, pencairan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) belum dapat dilakukan karena status kebencanaan di Lamandau masih siaga darurat.
Rizky menjelaskan, penetapan status tanggap darurat mempertimbangkan kondisi titik api, bukan semata-mata banyaknya asap. Menurut dia, asap yang menyelimuti Lamandau juga berasal dari daerah lain.
“Dari hasil koordinasi kita, status kita masih siaga bencana. Belum tanggap darurat. Karena yang menentukan adalah titik api, bukan dari banyaknya asap. Sementara kita dapat kiriman asap dari tetangga,” ujarnya.
Rizky sebelumnya juga telah menemui Menteri Kehutanan di kawasan Tanjung Puting untuk membahas persoalan terkait karhutla. (mex/yit)
Editor : Heru Prayitno