Petugas Damkar Pingsan Saat Padamkan Karhutla

Ria Mekar Anggreany • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 18:18 WIB
Anggota Satpol PP dan Damkar Kabupaten Lamandau Antonius Edi pingsan saat  memadamkan karhutla di Desa Batu Hambawang, Kecamatan Sematu Jaya, Sabtu (3/10) malam. (Ria/Radar Sampit)
Anggota Satpol PP dan Damkar Kabupaten Lamandau Antonius Edi pingsan saat  memadamkan karhutla di Desa Batu Hambawang, Kecamatan Sematu Jaya, Sabtu (3/10) malam. (Ria/Radar Sampit) 

  

NANGA BULIK, radarsampit.jawapos.com – Seorang anggota Satpol PP dan Damkar Kabupaten Lamandau, Antonius Edi, tidak sadarkan diri saat ikut memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Batu Hambawang, Kecamatan Sematu Jaya, Sabtu (3/10) malam. Antonius diduga mengalami kelelahan setelah terlibat dalam pemadaman karhutla setiap hari.

Plt Camat Sematu Jaya Tri Santoso mengatakan, Antonius awalnya terlihat duduk di tepi jalan dan diduga sedang beristirahat karena kelelahan. Rekan-rekannya kemudian membiarkannya hingga terlihat seperti tertidur. Namun, sekitar setengah jam kemudian, Antonius tidak kunjung bangun saat hendak dibangunkan.

Saat didekati, kondisi Antonius ternyata tidak seperti orang yang sedang tidur. Tubuhnya tidak merespons dan diduga mengalami pingsan.

“Kakinya sangat kaku. Sempat saya pijat supaya lemas, pupil matanya seperti ke atas. Jadi langsung kami larikan ke RS,” ungkap Tri Santoso.

Antonius kemudian dibawa ke RSUD Gusti Abdul Gani untuk mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, petugas lainnya tetap melanjutkan pemadaman karena kebakaran masih membutuhkan penanganan.

Kepala Satpol PP dan Damkar Lamandau Triadi membenarkan kejadian tersebut. Dia mengatakan, sejumlah petugas lainnya juga mengalami sesak napas setelah asap kebakaran tiba-tiba mengarah ke lokasi pemadaman.

“Awalnya dikira tiduran, pas dibangunin ndak bangun, ternyata pingsan. Yang pasti karena kelelahan, karena tiap hari ada pemadaman. Nah, pas yang di Desa Batu Hambawang ini ternyata besar apinya dan arah angin tiba-tiba mengarah ke petugas, asapnya sehingga banyak yang sesak napas,” kata Triadi.

Menurut Triadi, setelah pemadaman dan pendinginan lahan gambut selesai pada dini hari, sejumlah petugas yang mengalami sesak napas turut mendatangi rumah sakit untuk mendapatkan bantuan oksigen.

Dia menyebut kondisi tersebut tidak lepas dari keterbatasan personel di tengah banyaknya titik kebakaran yang harus ditangani. Bahkan, sebagian petugas harus berada di lapangan lebih dari 12 jam.

“Beliau ini tiap hari ikut terus pemadaman. Sudah disuruh istirahat tapi turun terus, padahal bukan waktunya beliau piket,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur RSUD Gusti Abdul Gani dr. Mardoni mengatakan, Antonius sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit. Namun, karena mengalami penurunan kesadaran dan membutuhkan penanganan lebih lanjut, pasien akhirnya dirujuk ke Pangkalan Bun.

“Kita rujuk ke Pangkalan Bun. Mengalami penurunan kesadaran, kami mencurigai gejala stroke,” ujar Mardoni.

Peristiwa tersebut menunjukkan beratnya tugas petugas pemadam di tengah tingginya intensitas karhutla. Keterbatasan personel dan luasnya wilayah yang terbakar membuat petugas harus berjibaku berjam-jam menghadapi panas, asap, serta kondisi lahan gambut yang sulit dipadamkan. (mex/yit)

  

Editor : Heru Prayitno
lamandau pingsan damkar karhutla