Dikepung Karhutla, Udara di Lamandau Mulai Tidak Sehat

Ria Mekar Anggreany • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 16:14 WIB
Kualitas udara di Lamandau mulai masuk kategori sangat tidak sehat sejak Jumat (18/9) hingga Minggu (20/9). (Ria/Radar Sampit)
Kualitas udara di Lamandau mulai masuk kategori sangat tidak sehat sejak Jumat (18/9) hingga Minggu (20/9). (Ria/Radar Sampit)

 

NANGA BULIK, radarsampit.jawapos.com – Kualitas udara di Kabupaten Lamandau mulai masuk kategori sangat tidak sehat akibat kepungan kabut asap tebal sejak Jumat (18/9) hingga Minggu (20/9). Kondisi tersebut terjadi akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berlangsung di sejumlah wilayah.

Kabut asap terlihat menyelimuti Kota Nanga Bulik hingga sejumlah desa di sekitarnya. Sejak Jumat pagi hingga siang, asap semakin pekat dan menyebabkan jarak pandang pengendara di jalan raya menurun. Bau sangit juga terasa menyengat hingga membuat mata perih.

Kondisi tersebut mulai berdampak terhadap kesehatan dan aktivitas warga. Salah seorang warga Nanga Bulik, Tata, mengaku merasakan sesak di dada dan mata perih ketika berada di luar rumah.

“Udaranya makin parah dari pagi sampai malam. Dada rasanya sesak dan mata perih kalau keluar rumah. Saya sampai beli air purifier supaya anak balita saya bisa bernapas lega di rumah,” ujar Tata.

Bupati Lamandau Rizky Aditya Putra mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kesehatan. Warga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan serta menggunakan masker ketika harus beraktivitas di ruang terbuka.

“Kami mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika terpaksa harus keluar, gunakan masker medis atau N95 demi menjaga kesehatan pernapasan,” kata Rizky.

Warga yang mengalami penurunan kondisi kesehatan juga diimbau segera mendatangi puskesmas atau rumah sakit. Fasilitas kesehatan tersebut telah dilengkapi ruang oksigen.

Dalam beberapa hari terakhir, kebakaran melanda sejumlah desa di Kecamatan Bulik dan Sematu Jaya. Kebakaran menghanguskan ratusan hektare semak belukar hingga kebun warga dan berlangsung selama beberapa hari karena sulit dipadamkan.

Asap dari karhutla kemudian mengepung Kota Nanga Bulik dan wilayah sekitarnya. Kondisi tersebut membuat kualitas udara di Lamandau semakin memburuk. (mex/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
lamandau karhutla