NANGA BULIK, radarsampit.jawapos.com – Harga eceran bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di Kota Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau, masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamandau.
Berdasarkan pantauan di lapangan, Sabtu (1/8/2026), Pertalite dijual Rp15.000 per liter, sedangkan Pertamax mencapai Rp20.000 per liter. Selain itu, stok BBM di sejumlah pengecer dilaporkan masih kosong.
Padahal, Pemkab Lamandau telah menetapkan HET Pertalite sebesar Rp13.000 per liter untuk wilayah Kota Nanga Bulik, SKPE, dan Kecamatan Sematu Jaya.
"Harga di eceran masih mahal, Pertalite Rp15.000 dan Pertamax Rp20.000," kata Marno, warga Nanga Bulik, Sabtu (1/8/2026).
Penetapan HET tersebut merupakan hasil rapat koordinasi yang dipimpin Bupati Lamandau, Rizky Aditya Putra, di Aula Sekretariat Daerah Lamandau pada Rabu (29/7/2026).
Rapat yang didampingi Sekretaris Daerah Lamandau, M. Irwansyah, serta dihadiri Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan instansi teknis itu digelar untuk menyikapi kelangkaan dan lonjakan harga BBM yang sebelumnya mencapai Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter.
Dalam rapat tersebut disepakati pengaturan antrean pembelian Pertalite dan Solar bagi masyarakat umum setiap hari pukul 07.00–10.00 WIB di Kecamatan Bulik dan Sematu Jaya, mulai 30 Juli 2026.
"Harga Eceran Tertinggi BBM bersubsidi jenis Pertalite ditetapkan sebesar Rp13.000 per liter untuk wilayah Kota Nanga Bulik, SKPE, dan Kecamatan Sematu Jaya," ujar Bupati.
Sementara itu, skema distribusi BBM untuk kecamatan lainnya akan dibahas lebih lanjut pada awal Agustus 2026 bersama pemerintah kecamatan dan pemerintah desa.
Sebelumnya, Bupati Lamandau juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying karena kuota pasokan BBM bersubsidi untuk Kabupaten Lamandau dipastikan mencukupi.
Meski demikian, hingga Sabtu (1/8/2026), harga Pertalite di tingkat pengecer masih berada di atas HET yang ditetapkan pemerintah. Kondisi tersebut menunjukkan kesepakatan mengenai HET belum sepenuhnya diterapkan sehingga masyarakat masih mengeluhkan tingginya harga dan terbatasnya ketersediaan BBM di tingkat eceran. (bib/yit)
Editor : Heru Prayitno